[FF] Like An Idiot Part 3

Like An Idiot Part 3

Author : 황민미a.k.a Amengamhae

Genre   : Romance

Cast       : Lee Donghae

Don’t hurt anymore, don’t cry anymore
I’m going to watch over you, we’ll be together forever
Believe in love, don’t be scared anymore
I’m standing in front of you like this, telling you I will make you happy

 

 —————————————————————————————————————————————–

 

 

Pyondeuri Cafe, Busan 10 April 2012 – 10.11 A.M.

Author POV

 

Eunyoung mengaduk-aduk jus alpukat yang ada di depannya perlahan, kemudian meniup sebagian minuman itu.

“Yaa! Mengapa kau menutup teleponmu semalam? Kajaa! Katakan siapa dia?” Seru Jungah yang sedari tadi hanya mengutak-atik ponsel temannya itu. Mencari sebuah informasi.

“Bagaimana kalau aku tak ingin memberitahunya padamu?” Eunyoung menghentikan aktifitasnya menatap kearah Jungah

“omonaa.. kau sombong sekali. Geurae, katakan saja dia itu seperti apa. Apa dia setampan Robert Pattinson? Won Bin? Atau Song Seung Heon? “

Eunyoung menunduk dan kembali memainkan sedotan di gelasnya.

“Mollayo.. kurasa dia bisa lebih tampan, indah, bahkan berkarisma dari mereka. Ini justru lebih indah dari apa yang aku rasakan sebelumnya”

“Wooo… Eunyoung-a, apa dia tahu kalau kau menyukainya”

“Ani..” jawab Eunyoung singkat

“Mengapa kau tak memberitahunya saja?”

“Ani.. aku tak mau”

 

“Waeyo? Apa dia ..”

“Ya, dia punya cinta lain Jungah, aku tak ingin hadir dalam cintanya yang lain” selangnya disaat Jungah belum meneruskan pembicaraannya “Ini semua soal pengorbanan. Tanpa yeoja itu tahu, ia telah banyak berkorban untuk wanita itu. Cinta itu…hhh.. andai ia berikan cinta itu kepadaku”

“Eunyoung-ssi..” panggil jungah

“Mmmmh..? Ya! Ya! Ssi?”

“Kau terlihat lebih dewasa dariku unni”

“Yayaya… terserah-mu nona Jung” Jawab Eunyoung seraya berdiri dan meyelendangkan tasnya.

 

——————————————————————————————————————————————

 

I’m risking my life, I’m risking my life
In order to love you I’m risking even my life
Do you know my heart, the heart that keeps wanting to see you?
In order to love, I’m risking my life….

———————-


Eunyoung POV


Aku harap Donghae oppa suka ini. Seporsi Jajangmyun ikan yang kubuatkan khusus untuknya. Tapi ini tidak benar-benar aku sendiri yang membuatnya, tentu saja atas bantuan ‘tangan dapur’ eomma. Hehe..

Seperti biasa, aku akan menemuinya di tempat biasa kami bertemu. Ya, di Hyunam Park.

Hyunam Park, Busan 10 April 2012 , 05.18 P.M

Kulirik jam tanganku.

“Baru jam 5 lebih 18 menit, asih.. diamana diaaa” dengusku.

Hey, dimana namja itu? Ini bukanlah jam dia pulang kerumahnya. Bahkan melihat STAN kerjanya saja tidak. Apa dia ke Tower Park? Kurasa tidak, terlalu menantang untuknya ke Busan Tower di jam-jam seperti ini karena dia akan terlibat bahaya dengan banyak orang yang melintas. Apa dia ke dekat pantai? Maka seharusnya aku bisa melihatnya dari sini sekarang.

Aishh… Donghae-ssi, dimana kau? Aku bingung seorang diri berdiri disini membawa jinjingan makanan untukmu.

 

“Hssss… Paboyaaa! Mengapa kau tak menggunakan ponsel saja? Aku tidak akan linglung seperti ini” dengusku lagi .

Ya Tuhaaan.. pertemukan aku hari ini dengannya. Apa ia memang tak ada disini hari ini?

 

Aku menghampiri seseorang yang sedang menyapu dedaunan kering di bawah lampu jalan. Aku tak boleh diam saja. Kurasa menanyai penyapu jalan itu bisa menjadi jalan keluar.

“Ahjusshi.. bisa ku tanya sesuatu?” tanyaku padanya

Ia berbalik da menatapku. “Ya nona manis? Ada yang bisa ku bantu?”

“Apa kau melihat pelukis buta yang sering duduk disana hari ini?” aku menunjuk kesebelah barat tempat dimana Donghae biasanya.

“Maksudmu Lee? Kurasa dia tidak pergi melukis hari ini”

Lee ? Mengapa Ahjussi ini hanya memanggil marganya?

“Kau tau dia? Bisa kau tunjukkan padaku rumahnya Ahjussi?”

“Kau hanya tinggal berjalan sedikit dari Busan Tower, carilah gang kecil yang ditandai batu merah besar, dan rumahnya bisa terhitung 5 meter dari jalan masukmu”

“Ne, kamsahamnida Ahjussi”

 

Aku pamit kepadanya dan pergi menuju kediaman Donghae oppa. Semoga aku ingat akan petunjuknya..

 

————————————————————————————————————————————-


Donghae POV

Entahlah, keadaanku hari ini memburuk. Tak seperti biasanya. Selama 5 bulan, baru sekali aku seperti ini. Aku biasa makan dengan Pak Jang , tapi tidak untuk hari ini. Hsssh.. aku sangat lapar. Aku bangun dari kursi, dan sedikit menyegarkan wajahku yang kurasa kusam. Tak nyaman tidur dikamar, sedikit sumpek. Jadi aku hanya menghabiskan waktu selama 17 jam tidur dan mendengarkan lagu . Bisa dibayangkan betapa buruknya itu.

Tok Tok Tok

 

Seorang mengetuk pintuku, yang kuingat aku tak menguncinya.

“Ye, kau boleh masuk”

“O..Oppaaa??? Waeyo??? Gwaenchana? Omooo..” seorang wanita langsung meluapkan ekspresinya terhadapku ketika ia masuk.

“Ani.. hanya demam biasa” jawabku tersenyum kecil padanya

“Apa kau sudah makan? “

Aku belum lama mengenalnya, tapi haruskah ku jawab jujur kalau aku memang sedang lapar sekarang? Baiklah, kurasa aku harus jujur padanya, mengatakan kebohongan padanya sama saja menunjukkan kau semakin terlihat lemah Lee Donghae

“Ya, aku lapar sekarang. Kau membawa makanan untukku?”

 

“Tentuu, kau tau apa yang kubawakan untukmuuu???” dia terdiam sejenak dan sesaat kemudian aku mencium bau ikan “Taraaaaaaa… Jjangmyun ikaaaaaannn”

 

“WHOAAAAA… Jjangmyun ikaaaan? Jeongmaaal?” Aku mulai sedikit terbangunkan akan kabar tentang Jjangmyun itu. Lemas? Tidak lagi. Ahh.. aku tak sabar memakannya.

“Kau tahu? Ake membuatnya dengan tanganku sendiri. Dan ini, special untukmu. Perdana. Jadi, habiskan sampai tak ada yang tersisa”

 

“YAA! SIAPA TAKUUT! Kau kira bisa mengalahkan nafsu makan ketika sang Lee Donghae sedang lapar?” godaku

Tak ada respon sama sekali darinya.

“Apa inii? Ini kameramu?”

Kurasa ia melihat kamera yang tergeletak diatas meja kecil disebelah kanan pintu masuk.

 

“Ye” jawabku singkat di sela memakan jjangmyun

 

“Masih terlihat bagus. Kau sering memakainya? Apakah masih ada beberapa foto yang kau simpan disini?”

“Ya, kebanyakan seorang wanita cantik”

“Kapan terakhir kau memakainya?”

“Terakhir aku bisa melihat”

Hening.

 

Cekrek

Terdengar suara kameraku berbunyi. Setelah selama 5 bulan aku tak pernah menggunakannya. Dan.. aku tak mengerti, kamera itu terbentur cukup keras sama sepertiku saat kejadian itu. Tapi ia jauh lebih beruntung daripada aku. Dan bagaimana dengan baterainya? Aku tak mengerti.

 

“Kameramu masih berfungsi bagus.. mmhh yaaa, bagus” katanya, aku tak tahu apa yang ia potret, “Dan kau sangat tampan untuk menjadi seorang model dari potografer handal sepertiku”

 

Ya, ternyata dia mengambil fotoku. Tapi, aku sedang makan. Hah.. sudahlah

“Hei.. bagaimana kalau kita mengambil selca berdua? Aku akan sangat bangga bila menunjukkan foto itu nanti pada teman-temanku dan mengaku kau adalah pacarku. Ottokhe?”

Jati diri seorang Goo Eunyoung, keluar. Aku suka sifatnya, ia sangat manis saat pertama aku mengenalnya. Walau belum bisa melihatnya.

“Kau mau? Baiklah, kalau bukan karena Jjangmyun ini, kau berhutang padaku” olokku

“Hahaha.. Baiklah, berposelah sebaik mungkin Donghae-ssi, karena kau akan menjadi terkenal setelah ini”

Kurasakan ia duduk disebelahku. Aku tak tahu bagaimana caranya selca tapi aku sendiri tak bisa melihat kearah kamera.

“Tunggu, kau mengambil dengan kameraku?” kataku menyela

“Handphoneku. Waeyo?”

“Ani.. lanjutkan”

Pipinya mengenai pipiku. Hangat . aku bingung harus bagaimana berekspresi dalam keadaan seperti ini. Aku hanya tersenyum dan sesaat kemudian Eunyoung berkata bahwa ia selesai berfoto denganku.

“Aigooo~ kau tampan sekaliii”

“Kau baru sadar? Aaah aku jadi merindukan melihat wajahku ini”

“YAAA!! Aku menyesal. Hsssshh”

 

———————————————————————————————————-

Eunyoung POV

“YAAA!! Aku menyesal. Hssssh”

Aku berdiri dan kembali berkeliling di sekitar ruangan berukuran 2 x 3 meter ini. Banyak foto-foto yang terpajang di dindingnya. Ini asli, ia yang memotretnya. Ia sangat berbakat dalam hal ini, sudah sangat profesional menurutku. Objek yang ia tampilkan begitu menarik, sangat unik.

“Apa kau tinggal disini sendiri?” tanyaku

“Ya, aku hanya sendiri disini. Tapi terkadang seseorang selalu datang kesini menemaniku. Hanya menemani”  jawabnya dengan setengah sunggingan senyum .

“Siapa dia?”

“Adikku”

Kemudian aku kembali melihat-lihat disekeliling ruang ini, ada sebuah laci mencurigakan. Laci itu terlihat sangat klasik. Dan aku penasaran ingin membukanya.

Handphone?

Aku mengambilnya, handphone berbentuk batang berwarna hitam. Mati, aku rasa baterainya habis. Aku mengambil sebuah charger yang tersimpan tak jauh dari tempat aku mengambil handphonennya tadi. Dan aku langsung menchargenya.

“Oppa..”

“Ne?”

“Bagaimana kalau kau mengaktifkan nomormu kembali?”

“Maksudmu?”

“Maksudku.. mmh.. yah, nomor ponselmu. Itu akan lebih memudahkan koneskiku denganmu”

“Mmmh, yah.. tapii.. aaah”

 

Ia agak sedikit ragu akan usulku, ia mengerutkan bibirnya dan menyusut bibirnya dengan tangannya.

 

“Taruh nomormu di speed dial ke-2”

“Yaaaaaaaaa!!!! Kau mauuu? Haaaaah.. ahaa.. “ Oke, aku sangat senang. Ini memang terlihat berlebihan, tapi aku memang benar-benar bahagia.

“Dan jangan lupa, buat ringtone khusus untuk panggilanmu. Itu akan lebih mudah menandakanku menerima panggilan darimu”

 

Yes! Ini pertanda baik Goo Eunyoung!

———————————————–

 

Hyunam Park – Busan , 22 April 2012 04.19 P.M.

Sudah beberapa hari terakhir ini, aku selalu menghabiskan setiap selang waktuku bersama namja itu. Ya, mahluk yang belum satu bulan aku mengenalnya, sudah mampu terlibat dalam kehidupanku. Apapun, dimanapun. Banyak hal yang tak aku yakini, ia lah yang membuat aku yakin. Entahlah, aku sangat mencintainya saat ini. Tapi aku harus bisa menutup mulutku perihal cinta ini.

 

“Aku sama sekali bingung untuk memilihnya, kau.. bagaimana menurutmu?” mataku mendelik bingung.

 

“Aku tak tahu apapun. Pilihan itu ada padamu Eunyoung-a, katakan ya atau tidak jika kau benar-benar yakin pada satu pilihan itu, tapi bila kau ragu, sebaiknya katakan tidak. ” Ujarnya

“Geurae.. Gomawo.. saranmu membantu” balasku tersenyum sambil beranjak dari tempatku. Yaah.. ini terlihat bodoh, karena dia takkan bisa melihat senyumanmu padanya Goo Eunyoung. Tapi tidak! Jadikanlah ini sebuah pengorbanan. Senyum tak banyak berati apa-apa jika kau hanya ingin mendapatkan sebuah rasa darinya, senyum kecil darimu akan jauh lebih berarti jika kau berikan senyum itu tanpa ada satupun unsur pamrih di dalamnya.

Kau tahu? Aku selalu ingin tahu tentang wanita yang tak pernah hilang dari hatimu itu , tapi disisi lain aku berharap bahwa orang yang kau ceritakan itu adalah aku donghae-ssi..

“Kau mau kemana?” tanyanya. Dia bisa merasakan keberanjakanku darinya.

“Mencari jawaban”

“Jawaban yang belum kau tahu pasti?”

“Setidaknya itu adalah jawaban…”

Aku meninggalkan mahluk itu bersama segunduk lukisan dan catnya. Setidaknya karena sebuah jawaban, kalau bukan, akan sangat disayangkan karena aku telah melepas satu waktu bersamanya.

————————————————————————————————————————————–

 

Busan Sakshil University , 06.17 P.M .


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru lobi, mencari sesosok yeoja berparas cantik dan bertubuh indah. Tak ada satupun tanda-tanda kehadirannya. Padahal sekitar 40 menit yang lalu dia bilang kalau dia akan datang secepat mungkin menghampiriku. Tapi dia malah menyuruhku menunggu disini. Haiiisshh.. pasti ia sedang sibuk bergaya dengan ‘Fans-fansnya’ itu.

Sebenarnya aku selalu iri pada Jungah. Dan keirianku ini semakin saja sering memuncak.

Hanya iri,aku tak bisa membencinya. Tak ada alasan membencinya. Dia itu manis. Dan pantas saja banyak orang yang menyukainya. Selain itu ia cantik. Sama seperti kakaknya. Junghwa unni.

Tapi terkadang ia menyebalkan kalau sudah begini..

“Saaaaaampaaaaaaaaaaaaiiiiiiiii………… aku sampaiii!!! Mianhae Eunyoung-a.. hah.. mi.. ah.. an..hae”

Jungah berlari cepat menghampiriku, dengan nafasnya yang masih terengah-engah.

“Kau sudah lama? Hah.. hah…”

Dia bertanya dengan posisi tubuh membungkuk 90 derajat dan tangan menahan ke-2 kakinya.

“Tepat pukul 5 lebih 37 menit aku berdiri disini”

“Hahh.. akuuu.. haahhh.. lelah sekali..”

“Tepatnya aku lebih lelah menunggumu selama 40 menit disini”

“Baiklah, huuuhhh.. kita pergi ke Sonsaengnim. Sekarang.”

“Kau bercanda? 26 menit yang lalu ia pulang”

“Jadi maksudmuu.. kita terlambat?”

“Kita? Maksudmu kau ? aku sudah mengumpulkan keputusanku padanya saat dia akan pulang”

“Kau jadi ikut jugaa? Aissshhh.. kenapa kau tak memberitahuku kalau begituu??? YAAAKK!! Haa.. eottokhae” Jungah kecewa dan bingung

“Yayayaaaa.. sekarang kau mau menyalahkanku? Dengar, mulai sekarang, berhentilah menunjukkan perhatian pada fans-fansmu itu Jungah”

“Mianhaee.. tapi tadi memang aku tak bisa beranjak dari para paparazi itu. Kau tau? Keadaannya sangat sayang untuk dilewatk..”

“Stoppp!!!” aku membungkam mulutnya dengan ponselku “Aku sudah sering mendengar alasan itu tiap kali kau terlambat Jungah”

—————————————————————————————————

 

Perempatan Hansung , 07. 42 P.M


Kami berjalan dari kampus hingga perempatan Hansung karena hari ini tak ada kendaraan yang boleh melintas, ada acara tahunan Busan. Jadi hari ini di full-kan untuk tak ada kendaraan mesin lewat. Hanya diperbolehkan sepeda dan becak *?* .

“Eh, tunggu. Bisa kau pegangi Handphoneku?” aku menyadari bahwa tali sepatuku lepas dan aku harus mengikatnya, aku meminta Jungah memegangi handphoneku sementara aku mencari tempat yang lebih tinggi untuk dapat diinjaki salah satu kakiku yang sepatunya lepas ini.

“Selesai.. “ kataku sedikit meloncat.

“Baiklah, kita berpisah disini Young-ah, mianhae untuk yang tadi”

 

“Ne, annyeong..” ucapku kemudian berbalik dan berjalan ke kanan. Busan Park

 

“Kaauuu?” tiba-tiba ucapan Jungah memaksaku kembali berbalik padanya dan menghentikan langkahku yang baru beberapa meter darinya “Bukankah ke kiri?” Lanjutnya , heran

“Busan Park” jawabku singkat

“Semalam ini? Yaa!! Eunyoung-a. Ini festival tahunan, dan Busan Tower pasti sepi.. aiiish aku tak mengerti jalan pikiranmu, kau takkan bisa menemui seorangpun disana”

“Aniyooo, aku tak akan berwisata malam Junga-ssi, aku tak perlu sebuah keramaian kesana. Damai akan lebih indah.”

“Baiklah, Annyeong”

“Ne.. annyeong”

————————————————————————————————————————-

Author POV

Ia memasuki gerbang mini yang tembus kedalam taman yang tepat dipusatnya ada sebuah tower yang tak terlalu tinggi. Memandangi sekitarnya , mengusap-usap tubuhnya karena angin malam berhembus agak kencang. Benar apa kata Jungah, ia takkan menemui satu orang-pun disini. Donghae? Mungkin iya, juga tidak.

Angin laut busan tak jua berhenti. Sayup-sayup dan menggesekan dedaunan hingga banyak menghasilkan suara, ia juga mendengar suara langkah seseorang dengan hentakkan tongkatnya.

“Tak salah lagi.. ya, pasti dia” batinnya.

Ia menghampiri orang yang ia curigai sebagai donghae itu. Dan benar saja, perkiraannya tak meleset sedikitpun. Ia memegangi tangan bagian atas pria itu.

“Annyeong tampan”

“Kau? Haha..” Donghae yang kaget kemudian tertawa kecil.

“OMOOOO~ Tanganmu ini berotot sekali oppa” Eunyoung meremas-remas tangan yang tadi ia genggam dan menyandarkan kepalanya sambil berjalan.

 

“Jadi, apa rencana kita malam ini?” tanya donghae

“Kau kesepian? Baiklah , malam ini aku resmikan kalau aku telah resmi menjadi teman hidupmu”

“Jadi malam ini perayaan kau menjadi teman hidupku? Haha baiklah ..”

Eunyoung tersenyum padanya, dan kemudian bersandar kembali. Mereka duduk di sekitar tower dan banyak memandang langit walau angin banyak berhembus.

“Oppa..” ucap eunyoung membuka pembicaraan.

“Ne?”

“Kalau kau bisa melihat kembali, siapa yang benar-benar ingin kau lihat meskipun ia bukan menjadi yang pertama kau lihat oppa?”

“Kau Youngie”

 

Eunyoung kaget atas jawaban yang baru saja ia dengar dan bangun dari sandarannya.

“Eh?”

“Wae?”

“Aku? Emmhh… aaahh” eunyoung menjadi sedikit gugup dan tak tahu harus berkata apa “Wae? Kenapa bukan yeoja itu yang ingin kau lihat pertama oppa?”

“Selama aku bisa melihat, aku sudah sering melihatnya. Aku rasa aku masih bisa mencarinya karena aku sangat ingat wajahnya. Kau? Akan sangat asing bagiku bila aku bisa melihat Youngie, kau baru dalam hidupku. Kau yang banyak ingin tahu tentang hidupku, dan telah resmi menjadi seorang teman hidupo bagiku, apakah itu tidak cukup untuk menjadi alasan kalau aku ingin melihat wajahmu?”

“Oppa….haah” Eunyoung menarik nafas sejenak “Bagaimana kalau aku itu ternyata tak secantik yeoja yang kau cintai?”

“Walaupun tak secantik dia, kau akan tetap mempunyai tempat tercantik bagiku Youngie”

 

Eunyoung kembali menyandarkan kepalanya pada Donghae. Menarik nafas kembali.

“Gomawo oppa..”

Ia tersenyum atas semua perkataan Donghae padanya tadi.

“Saranghae Donghae-ssi” katanya dalam hati, ia mulai memejamkan mata, kemudian terbangun kembali.

“Aaaaaiiissshh.. aku lupa!! Handphonekuuuu, aaaannndweee!!! Aku yakin ketinggalan”

———————————————————————————————————————————————

 

Esoknya di Hyunam Park, 08.19 A.M

 

“EUNYOUUUUNG …. “ Teriak Jungah dari kejauhan. Ia berlari menghampiri yeoja yang duduk sedari tadi dan terus melihat jam tangannya. “Ini..” Jungah mengulurkan tangan yang ada hanphone milik Eunyoung ditangannya.

 

“Gomawo..”

“Aishhh, kalau bukan karena handphonemu itu aku tak akan bangun pagi seperti ini” ucap Jungah mengeluh.

“Mwooo? Kau takkan kuliah hari ini maksudmu?”

“Tadinya sih begitu, tapi yaaaah.. aku malas young-aaaaa. Oyah, ada 17 panggilan tak terjawab , dan 14 pesan masuk”

“Oyah? Dari siapa? Mengapa tak kau angkat saja Jungaaaaah?”

“Andwee.. karena kebanyakan elepon itu dari ibumu. Aku tak berani mengangkatnya”

“Jinjja?”

“Ne, 16 diantaranya ibumu”

“Lalu satunya lagi?”

“Pak … mmh entahlah aku lupa”

Eunyoung mengecek handphonenya, membuka aplikasi ‘message’ dan membaca satu-satu pesan yang masuk.

Kebanyakan diantaranya dari eommanya tentang kekhawatirannya seperti, ‘Euyoung , kau dimana?’ atau ‘kapan kau akan pulang? Cepat pulang’ dan ‘eunyoung, kau tidaka apa-apa kan? Balas SMS aku nak’

“11 dari eomma. Dan 3 dari Lee Sonsaengnim yang berisi pesan dari eomma. Hah.. eommaa” Eunyoung mendengus karena melihat seisi inboxnya.

 

“oyah.. siapa namja yang banyak di handphonemu itu Young-a? Banyak sekali kulihat “

“Aaaaahh.. emmhh ini , dia yang sering aku temui akhir-akhir ini , dia tam..”

“Mwo? Aku sering melihatnya sekitar, mmh 5 bulan yang lalu” Sergah Jungah, ia sejenak berfikir “Ya! Aku ingat, dia sering membawa kamera dilehernya dan aku rasa dia itu paparazzi. Hampir setiap aku ada, dia ada.

“Maksudmu dia itu sering mengikutimu untuk memotretmu? Begitu? “ Eunyoung menyipitkan matanya hingga hanya terlihat seperti garis , heran.

 

“Mungkin. Yaaa!!! Masa kau tak pernah melihatnya? Oyah , dia tampan”

Eunyoung terdiam. Wajahnya terlihat lemas. Ia mengencangkan pegangan atas tasnya.

“Aku harus pergi.. mianhae”

Ia berlari dengan kepanikan diwajahnya. Sementara Jungah merasa heran dengan apa yang temannya baru saja lakukan, ia terlihat aneh dalam sekejap setelah Jungah memberitahukanya kalau ia pernah melihat namja itu beberapa bulan lalu.

—————————————————————————————————————————-

Eunyoung POV

Aku tak percaya yang baru saja ku dengar. Dapat kusimpulkan, jadi … Jungah yang selama ini dicintai oleh Donghae oppa? Aku tak percaya, aku tahu auku memang selalu iri pada Jungah, atas kecantikannya, sikapnya yang manis, dan bakatnya menjadi model. Tapi untuk ini? Aku benar-benar tak bias terima. Orang yang selama in I diceritakan dan selalu diagung-agungkan oleh oppa, tak jauh dariku? Lalu apa yang harus aku lakukan saat ini? Mengakui pada Jungah kalau sebenranya pria yang da dalam HPku itu mencintainya? Lalu bagaimana dengan aku?

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGHH”aku berteriak sekeras mungkin di dekat pantai. Beruntunglah karena tidak banyak yang datang kesini.

 

Dasar, lalu untuk apa aku selama ini rela menjadi orang bodoh? Demi cinta seorang yang sama sekali tak pernah membalas tatapanku.

“Baiklah, tak usah temui dia saat ini Goo Eunyoung”

—————————————————————————-

Esok harinya, Busan 5.18 P.M 

Aku tak akan menemuinya sore ini, namun aku tetpa tak bisa menghindari kalau aku harus melewati jalannya. Karena jalan ke rumahku melewati Hyunam Park.

Kulihat ia sedang membereskan lukisannya dengan semampu ia. Yah , memang sangat kasihan. Ia terlihat sangat repot. Apalagi ia harus mengerjakannya dalam keadaan buta. Hahh.. aku kasihan padanya, aku berharap ia mendapat bantuan, karena semenjak aku kenal dengannya , aku sering membantunya membereskan segala peralatan lukisnya. Tapi kuyakin dia pasti bisa melakukannya tanpa aku sekarang. Bukankah sebelum mengenalku dia juga selalu melakukannya sendiri bukan?

Sudah 3 hari aku tek pernah menemuinya, memang hampa. Sangat berbeda. Sama rasanya ketika aku patah hati dulu. Hari ini aku melihatnya berjalan pulang lebih awal. Entah apa mungkin juga karenaku, tapi wajahnya tak terlihat seperti biasanya , juga ia tak pernah pulang seawal ini. Ini masih pukul 5 sore. Ia biasa pulang pukul 8 malam. Goo Eunyoung, kurasa ini karenamu.

————————

Donghae POV

Kemana dia? Apa sesuatu telah terjadi padanya sehingga tak pernah menemuiku lagi?

Sudah 6 hari terakhir ia tek pernah mendatangiku lagi. Padahal ia mempunyai nomor ponselku, aku tahu ia adalah tipe wanita yang agresif, ia mungkin akan sangat jujur sekali padaku. Tapi ini tidak, ia bahkan sama sekali tak menghubungiku. Sepertinya memang ia ada masalah. Atau mungkin kurasa ia tak mau menemuiku lagi karena malu beteman denganku. Dan aku akan kesepian lagi setelah ini.

“Tumben kau akhir-akhir ini selalu ada dirumah mulai sore hari? “ tanya pak Young ketika aku berjalan menuju rumah.

 

“Aaah..ani, aku hanya ingin istirahat lebih lama dirumah” jawabku sambil tersenyum, dan kemudian berjalan kembali perlahan dengan 1 tongkatku.

Aku masuk ke kamar dan menidurkan diriku di tempat tidur. Sudah mau 6 bulan , tapi aku belum pernah mengganti seprainya. Ini sangat menyedihkan, mungkin akan lain ceritanya kalau eomma dan appa tau kalau anaknya , di Busan, sudah tak bersekolah selama lebih dari 5 bulan karena buta.

 

Pikiranku kosong, sama sekali tak bisa memikirkan apapun, seseorang, atau masalah hidupku. Aku menatap kosong keatap-atap yang gelap. Mungkinkah atap-atap itu telah memudar catnya? Banyakah laba-laba yang menyimpan jejaringnya di atap yang sedang kutatap ini?

 

Aku sedikit rendah diri akan ketidakpernah hadiran Eunyoung lagi.

Dan aku berbohong kepada pak Kim kalau aku lelah dan ingin beristirahat.

Aku sebenranya sangat kesepian menunggu seseorang yang tak akan datang kepadaku di Hyunam Park.

 

——————————————————-

 

Eunyoung POV

Eunyoung’s House , 05.19 P.M

 

“Akhir-akhir ini eomma perhatikan kau tak seceria kemarin ? waeyo?”

“Ani..aku hanya sedang tak mood saja eomma” kataku sambil membuka pintu kamar, baru selangkah aku menginjakkan kakiku dari pintu, eomma mengejutkanku dengan sebuah pertanyaan.

 

“Dan akhir-akhir ini eomma lihat kau tak pernah ke Hyunam Park lagi menemui pria itu. Apa karena dia buta?”

 

Sontak langkahku terhenti karena ucapan eomma. Aku belum bisa menjawabnya,

 

“Bukan karena ia buta eomma, maaf aku lelah”

 

Aku langsung masuk dan menutup pintu tanpa menunggu respon eomma.

Mwoyaaa? Eotteohke? Bagaimana eomma tau?

Haissshhh, apa selama ini eomma mengikutiku dari belakang

 

Haaaah.. tidak usah difikirkan Youngie. Kau lebih baik tidur dan lupakan semua dari sekarang.

Dan pria itu, aku khawatir akan keadaannya.

————————————————————————————–

 

“Youngie, ini sudah malam, kau tak akan makan?”

 

Suara lembut itu terdengar jelas oleh telingaku, namun aku belmu bisa memastikan apa itu eomma atau bukan. Karena mataku masih tertutup. Kepalaku pusing, dan aku mulai mencoba bangun.

 

“Aaa.. ne, nanti aku menyusul eomma”

 

“Baiklah, kutunggu”

Beberapa menit kemudian setelah kesadaranku terkumpul, aku berjalan menuju ruang makan dan duduk bersebrangan dengan eomma. Kemudian menuangkan makanan ke piring, dan melahapnya.

“Kau belum menjawab pertanyaan eomma tadi yeoungie” Sela eomma ditengah makan malam kami.

 

Dengan mulut penuh, aku menjawab pertanyaan eomma “Aku sudah menjawabnya. Dan kurasa itu cukup”

“Apa kau menyukai namja itu?”

 

Aku diam. Kemudian menatap eomma.

 

“Bisakah eomma tak membahasnya sekarang?”

“Kau hanya tinggal menjawab ‘YA’ atau ‘TIDAK’ “

“Ya”Jawabku malas

 

“Lalu mengapa akhir-akhir ini kau tak pernah menemuinya lagi?”

“Eomma, mengapa eomma bertanya lagii?”

“Kalau kau menyukainya, apa alasanmu tak pernah menemuinya lagi selama 10 hari ini?”

 

 

“Eommaaa…”

 

 

“Kau tau? Cinta itu pertaruhan Youngie. Sama seperti eomma yang mencoba untuk bertaruh agar eomma tidak menggantikan cinta appa meskipun ia tak ada disini”

 

Aku diam. Banyak pertanyaan di otakku yang aku tak tahu jawabannya. Eomma, kata-katamu membuat aku tak bernafsu makan kembali, dan aku ingin menciumnya.

 

“Aku mengantuk. Aku tidur” ucapku singkat setelah menenggak air putih, kemudian masuk dan mengunci pintu kamar.

Eunyoung, ini sudah 10 hari kau tak pernah menemuinya. Membiarkan dia membusuk atas kebosanannya, mengembalikan dia ke keadaan 5 bulan lalu dimana ia tak mempunyai teman hidup. Dimana hatimu? Kau baru saja resmi menjadi teman hidupnya 10 hari yang lalu. Besok , kau harus temui dia lagi.

 

Cinta adalah pertaruhan. Tak cukup sekali bertaruh. Kau selalu sabar dan menginginkan ia melihatmu bukanlah bertaruh. Kesabaranmu ingin berbalas tatapannya terhadapmu bukanlah sebuah pertaruhan. Seberapa besarpun cintanya pada seorang yeoja juga tak harus kau gubris youngie. Itu urusan dia, dia yang memberikan cinta miliknya,bukan kau.

 

——————————————————————————————————-

 

Esok harinya , 04.10 P.M

Tadi pagi Jungah mengabariku kalau aku harus tetap berada di kampus sampai sore untuk menunggu pembicaraan dosen. Padahal hari ini jelas-jelas kuliah diliburkan. Hanya aku dan beberapa siswa yang tertunjuk berada disini.

Haaaaahh… hal ini membuatku mengulur waktu untuk menemui pria buta tampan itu. Aku sudah dari pagi berada disini, dan sonsaengnim barusaja datang.

06.22 P.M

Kalau aku tahu sonsaengnim akan datang sore, aku pasti sudah mendatangi Donghae oppa sejak tadi pagi. Jam segini pastilah ia sudah pulang, apalagi setelah tak pernah bertemu denganku. Aku pulang saja laaaah..

 

Aku pulang melewati jalan hyunam. Disini masih ramai ternyata. Aku bermaksud berbelok , memastikan apakah pria itu masih ada disana atau tidak.

 

Aku kaget  saat tempatnya sangat ramai.

Dia, dikerubungi oleh bebrapa orang pria yang suka berjaga di pinggiran pantai dan mengambil beberapa hasil nelayan.

Aku tak tahu apa hubungan pria-pria itu dengannya. tapi mengapa pria-pria itu terlihat berlaku kasar pada Donghae oppa?

Aku bingung pada diriku sendiri apakah harus menghampirinya, tapi akupun tak tahu apa-apa.

Aku hanya memperhatikan dari jarak sekitar 7 meter darinya.

 

PRAAAANGGG

 

Suara itu dihasilkan oleh bantingan seluruh alat melukis Donghae oppa oleh pria pria tersebut.

Apa benar yang aku lihat?

Mereka semua membanting lukisan oppa berhamburan dimana-mana. Selain aku banyak orang yang melihat kejadian ini tanpa mampu berbuat banyak.

Termasuk aku. Pria-pria itu berbadan besar dan bertato. Aku terlalu lemah. Apalagi takkan ada dukungan terhadapku dari orang-orang yang ada disini bila aku melawan mereka.

Mataku menitikan air mata. Saat ku melihat ia yang tak berdaya mencoba melawan perlakuan keji semua namja-namja itu. Ia hanya bisa meraba-raba udara, dan ketika ia mampu menyentuh semua pria-pria itu, tubuhnya dihempaskan hingga terjatuh. Ia kemudian bangun setengah berdiri, masih dengan ketidakberdayaannya, ia terus mencoba menghentikan mereka. Aku menangis. Ya, aku tak kuat melihatnya mencoba agar tak terlihat lemah dihadapan ancaman .

Namja-namja itu terus saja merobek-robek semua lukisan oppa. Mungkin ia mampu merasakan dan mendengar lukisannya dengan keji dihancurkan begitu saja. Ia terus melakukan perlawanan. Dan dia dijatuhkan kembali, tapi tidak. Kali ini ia jatuh oleh sebuah tamparan keras dari salah satu pria disana.

Aku semakin tak tahan. Aku memang tak mampu melawan mereka. Tapi aku juga tak bisa membiarkannya , yang lemah, bersikap kuat demi lukisan-lukisannya itu.

Aku berlari menuju tempatnya teraniaya sekarang. Ia ditimpuk oleh lukisannya sendiri. aku menutupi kepalanya dengan pelukanku, dan aku menarik tangannya kemudian membawanya ke tampat yang jauh dari mereka.

“Ayo ikut aku “ ucapku, membawanya .

 

Sementara pria itu masih saja dengan keasyikannya menghancurkan semua harta terindah Donghae oppa.

Kami duduk di atas tembok yang tidak tinggi, aku masih terus menangisinya. Terisak-isak melihat wajahnya terdapat beberapa goresan panjang maupun pendek.

“PABOYAAAA!!! BABO CHOROM !!!! WAEEEE ??? WAEEEEE??” teriaku padanya , masih dengan tangisan .

Ia diam, dan menangis pula.

“WAEEEE???? Apa kau mencoba tegar? Kau ingin membuktikan kau itu kuat??!” tangsiku semakin menjadi.

“Akuu.. haa.. aku hanya ingin menyelamatkan..”

“Apa? Lukisan-lukisanmu itu? Kau pikir dengan keadaan seperti ini kau bisa melindungi semua lukisanmu ituuu?? Apa kau tahu kalau kau justru terlihat sangat lemah diantara mereka Donghaessi ??”

Ia masih menagis. Air matanya jatuh mengenai luka-luka diwajahnya.

“Kalau kau ingin terlihat kuat, seharusnya kau menghindar dari mereka bodoooh !!! Apa kau tak tahu betapa khawatirnya aku selama ini ??”

“Mianhae.. jeongmal..Aku, aku hanya tak tahu harus bagaimana dengan lukisan-lukisanku itu. Mereka terlalu berarti untukku”

 

“PABOO!!! Kau kira semua orang juga akan lebih membutuhkan lukisanmu daripada yang menciptakannya hah? Aku bahkan sangat membutuhkanmu walau kau tak bisa melukis sekalipun…

“Mianhae.. mianhae.. karenaku, kau …” suaranya bergetar disertai tangisan lirihnya. Aku langsung memeluknya.

Aku masih menangis dipelukannya dan entah kenapa mulutku bisa berkata “Aku mencintaimu, cukup, hanya ini yang kubutuhkan, mencintaimu”

Hening. Aku , ia, sama-sama diam.

—————————————————————————-

 

“Aaaaw.. “

“Ahhh.. mianhae, apa itu sakit? Mungkin aku harus lebih pelan lagi” tanganku masih saja mengelap darah diwajahnya dengan air hangat, kemudian mengobatinya dengan obat merah yang aku beli tadi. Aku tahu, itu perih.

Beberapa menit kemudian, aku selesai mengusap wajahnya. Sekarang wajahnya sudah bersih. Seketika aku diam.

 

Aku menatapnya tepat di bola matanya. Mata yang membuatku menjadi orang terbodoh karena mau menatapnya. Mata yang tak akan memberi balasan atas tatapanku. Mata yang bahkan tidak tahu kapan aku telah menatapnya. Ya, mata yang mebuatku melihat ada cinta didalamnya.

Melihatnya, walaupun aku mencintainya, aku merasa malu sekarang mengingat momen yang terjadi tadi.

Aku harap ia takkan menjadi canggung padaku, begitupun sebaliknya.

 

———————————————————————————-

 

2 bulan berlalu, hubunganku dan Donghae oppa berjalan semaki baik. Tidak, kami tidak menjalin hubungan apapun. Aku tak peduli dengan cintanya terhadap Jungah, wanita yang aku pikir adalah yeoja yang dicintainya. Kalau aku beritahukanpun, belum tentu ia akan langsung melamarnya.

“Akhir akhir ini Kim Sonsaengnim sering menghubungiku, ia mengajakku kembali berkuliah”

“Jinjja? Tunggu, Kim sonsaengnim itu dosenmu? Dan ia mengajakmu untuk meneruskan kuliahmu lagi?”

“Ne, akupun tak mengerti, tapi ia sangat bersikukuh mengajakku”

Mendengarnya berkata seperti itu, aku berharap itu nyata.

 

———————————————————————————————

Hyunam Park , Juli , 02.44 P.M 

 

Donghae POV

Aku tak sabar ingin bertemu dengannya. Lusa, ya, besok lusa hidupku akan berubah . aku belum ingin memberitahukan pada Eunyoung, biarkan ini menjadi sebuah kejutan. Setelah pengakuannya kalau ia menyimpan rasa cinta terhadapku waktu itu, aku lebih bersimpati padanya. Entahlah, ketertarikanku padanya semakin tinggi.

 

Esok pagi aku akan melakukan perjalanan ke Seoul bersama Kim Sonsaengnim. Kurasa aku akan lama berada disana, maka dari itu, aku ingin sekali bertemu dan menghabiskan waktu bersamanya hari ini.

Aku ingat kalau nomornya ada di speed dial ke-2.

Ku tekan angka 2.

Tuuut… tuuuut…..

Tak ada i-ring sama sekali, hanya bunyi ‘tut’ aku dengar, namun bukan itu yang ingin kudengar. Suaranya yang ingin kudengar.

 

Tuuut.. tuuut.. tuuutt…

Masih tak ada jawaban. Aku mencoba menghubunginya lagi .

Tuuut..tuuutt.. tuuut…

Masih bunyi itu yang kudengar selama beberapa detik. Namun tetap sama, bukan suaranya yang kudengar.

Ku coba lagi hingga 17 kali. Namun masih sama juga.

Akhirnya kutinggalkan pesan melalui operator.

“Semoga kau datang Youngie”

—————————————————————————————-

At the same time, Busan Tower

Eunyoung berjalan di pinggiran busan park. Dengan kesadarannya ia berjalan, tetapi tiba-tiba sebuah sedan mewah menghentikan kecepatannya tepat didepan langkah eunyoung akan melintas. Kalau saja ia berjalan beberapa senti lagi, maka tertabraklah tubuhnya.

“YAAAAA !!! TURUN KAU BODOOOHH !!!! HEY!! CEPAT TURUUUN!!! “ Eunyoung berteriak sambil menendang-nendang ban mobil yang ada di depannya itu, banyak orang disana memerhatikannya. Tapi ia sama sekali tak peduli .

Seorang pria berkacamata hitam keluar dari mobil, ia tersenyum pada gadis yang marah padanya itu. Kemudian membungkuk dan mengucapkan salam.

“Annyeong manis..” ucapnya sambil tersenyum ganas.

Eunyoung sama sekali tak berkutik dengan senyumannya tadi.

“Kaauuuuuu?” tanyanya terheran-heran melihat namja didepannya itu.

“Masih ingat aku?”

“Haaa.. kau? Aku lupa akan dirimu , hanya ulah bodohmu itu yang tak bisa aku lupakan” jawab Eunyoung sinis

“Kalau begitu ikut aku”

Namja itu menarik Eunyoung dan membawanya masuk kedalam mobil. Kemudian melajukan mobilnya cepat entah kemana.

Saat mobil itu sampai ditujuan, Eunyoung keluar dari mobil dengan pintu yang sengaja Namja itu bukakan untuknya. Kemudian ia menarik tangannya lagi dan membawa ia lari kearah pantai.

Sementara di dalam mobil handphone Eunyoung terus bergetar dan mengeluarkan suara.

 

——————————————————————————-

“Youngie-ah, aku akan baik lusa. Bisakah kau datang malam ini ke Pantai Hwanhee? Aku akan menunggumu dari saat ini hingga kau datang. Jadi datanglah. Aku ingin menghabiskan waktu spesial hari ini , hanya denganmu sebelum kau mendapat kabar bahagia dariku nanti. Eunyoung-ah, terimakasih sebelumnya, saranghae”

——————————————————————————

10.18 P.M 

Pria itu masih berdiri sedari tadi, dari pukul 3 sore. Sesekali ia duduk untuk merefleksikan kakinya. Sesekali ia juga  bernyanyi untuk menghilangkan rasa bosan. Tetapi yang ditunggu tidaklah datang.

Sementara itu disisi lain Eunyoung menyadari kalau ia meninggalkan handphonenya di mobil namja itu.

Ia berlari kemobil dan melihat ponselnya yang berisi banyak sekali telepon dari donghae.

“Youngie-ah, aku akan baik lusa. Bisakah kau datang malam ini ke Pantai Hwanhee? Aku akan menunggumu dari saat ini hingga kau datang. Jadi datanglah. Aku ingin menghabiskan waktu spesial hari ini , hanya denganmu sebelum kau mendapat kabar bahagia dariku nanti. Eunyoung-ah, terimakasih sebelumnya, saranghae”

Matanya membulat saat mendengar pesan dari Donghae. Ia kemudian berlari mencari kendaraan menuju tempat donghae berada tanpa menghiraukan Pria yang telah mengajaknya ketempatnya sekarang.

 

“Nado.. saranghae Donghae-ssi”

 

———————————————————–

I’m risking my life, I’m risking my life
In order to love you I’m risking even my life
Do you know my heart, the heart that keeps wanting to see you?
In order to love, I’m risking my life

-TBC-

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s