Like An Idiot Part 2

Kututup mata, dan menarik nafas panjang. Udara malam di laut memang sungguh menakjubkan. Aku akan mati dengan kesejukkan laut Busan. Kurentangkan tanganku dan bersiap terjun bebas dari atas tembok sini. Yang ku lakukan hanyalah cukup berpura-pura tak bisa berenang, dan memastikan tak ada orang yang melihatku.

Hembusan angin malam . Yah, ini waktunya.

“sewori hullo naiga dulgo
gudae gomun moriwie
huinnuni puryojindwi”

Suara itu, terdengar sangat lembut di gendang telingaku. Memecah kebuntuan otakku. Ya, lelaki itu. Dengan nyanyiannya telah berhasil menggagalkan semua yang akan kulakukan. Aku menghentikan langkahku untuk terjun ke laut dibawahku.

———

Hyunam  Park , Busan – 5 April 2012

Donghaes POV

Busan, tak pernah ada yang membayangkan bahwa tempat ini menyajikan begitu banyak keindahan dibalik banyaknya truk yang hilir mudik dengan membawa berton-ton ikan. Walaupun tidak sebesar Seoul, dan taka banyak toko-toko fashion seperti yang ada di Daegu namun Busan adalah tempat dimana kau bisa menemukan nuansa malam yang indah. Lihatlah, disini kau bisa temukan surga dunia. Beruntunglah aku, yang tinggal disini.

Dulu begitu, tapi tidak setelah kejadian 6 bulan yang lalu menimpaku. Dimana sebuah kecelakaan menghempaskan diriku. Dan kenyataan lain yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Setelah sebulan aku bangun dari ‘Koma’ku aku harus terima bahwa mataku tak dapat bekerja lagi. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan kala dokter membuka sebuah penutup yang tertempel dimataku. Ya, aku buta.

“ Aku tak tahu apakah ini buta permanen atau bukan. Kalo bukan, hanya waktu yang akan menentukan”

Aku diam beberapa menit. Saat itu, tanpa kesadaranku air mataku jatuh.

“Tuan Lee? Gwaenchana?”

Tangisku semakin menjadi-jadi saat itu. Aku hanya merasakan air yang semakin deras jatuh dari matku tanpa tahu lagi bagaimana rupanya.

“Dokter, menurutmu apa aku akan bertahan?” tanyaku gemetar

“Tergantung semangatmu tuan Lee. Percayalah pada takdir”

Sebelumya, aku tak terima akan hal ini.

Tapi ini, adalah takdirku.

Dan sudah 5 bulan, aku mampu melaluinya dengan cukup baik. Sebenarnya aku hanya mencoba menikmatinya. Tapi ini jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.

———–

“gomapseumnida..” ucapku sambil membungkukan badan 45 derajat kepada seorang noona yang telah membeli lukisan dariku.

Aku berharap noona itu membeli lukisan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana rupanya bukan karena melihat keadaan fisikku yang buta. Aku ingin ia benar-benar melihat nilai estetis yang ada dalam lukisanku.

“annyeong? Berapa harga lukisan yang ini?” selang beberapa menit setelah noona tadi, kini seorang yeoja datang menghampiri stanku.

“Berapapun, semaumu” jawabku

“Mwo? Jinjjaro? Bagaimana kalau aku hargai 100.000 won? Kau mau?” sentaknya kaget

“Aa…andwae!! itu terlalu mahal nona. Aku harap kau membelinya bukan karena kasihan padaku, tapi lihatlah nilai estetisnya nona kurasa itu terlalu mahal untuk lukisan seperti itu”

“Aniiiiii~, maksudku ini bagus ! aku sama sekali tak kasihan padamu. Apa kau tak sadar kalau lukisanmu itu bagus?”

“Molla, aku bahkan tak bisa melihat hasilku sendiri nona”

“maksudmu kau buta?”

“kau tak tahu ?” aku tak paham dengan nona ini, apakah ia benar-benar tak sadar?

“molla. Kau bahkan tak terlihat buta. Matamu… bahkan terlalu indah tuan, jangan salahkan aku kalau mata indahmu itu membuatku tak tahu akan kekuranganmu tuan”

“haha… gomapseumnida “ jawabku tersenyum lebar.

Polos sekali.

——–

Eunyoung POV

“Mwo? Jinjjaro? Bagaimana kalau aku hargai 100.000 won? Kau mau?” kataku kaget. Lukisan sebagus itu , aku bahkan tak mengerti mengapa dia tak memberi patokan harga.

“Aa…andwae!! itu terlalu mahal nona. Aku harap kau membelinya bukan karena kasihan padaku, tapi lihatlah nilai estetisnya nona kurasa itu terlalu mahal untuk lukisan seperti itu”

“Aniiiiii~, maksudku ini bagus ! aku sama sekali tak kasihan padamu. Apa kau tak sadar kalau lkukkisanmu itu bagus?”

“Molla, aku bahkan tak bisa melihat hasilku sendiri nona”

“maksudmu kau buta?” tanyaku heran

“kau tak tahu ?”

Aku semakin tak mengerti maksudnya. Tak mungkin  pelukis setampan ini , dengan matanya yang indah … mmmhh aaaahhh  aku tak bisa berkata-kata lagi saat melihatnya.

“molla. Kau bahkan tak terlihat buta. Matamu… bahkan terlalu indah tuan, jangan salahkan aku kalau mata indahmu itu membuatku tak tahu akan kekuranganmu”

“haha… gomapseumnida “ jawabnya dengan senyum lebar yang tersungging di bibirnya

Ia menatapku, atau nyatanya itu hanyalah tatapan kosong. Kulirik jam tanganku , sudah pukul 5 sore.

Eomma akan panik kalau aku tak pulang sekarang, terlebih aku tak memberinya kabar karena mematikan ponselku sengaja. Sebenarnya tak ada hal yang akan kulakukan setelah ini, tapi diam disini bersamanya hanya akan membuatku terlihat semakin bodoh karena dia tak akan menyadari segala apa yang kulakukan.

“Kau…bisakah simpan lukisan itu untukku?”

“Agasshi, kau tahu aku tak bisa melihat, jadi bawalah itu untukmu”

“Mwoyaaa??? Jinjja? Ini gila”

“kau bisa membayarnya saat kau kembali kesini nona. Aku tak tahu lukisan mana yang kau inginkan. Aku takut orang lain akan mengambilnya lebih dulu, atau hilang tanpa aku tahu”

Namja ini…

Ini benar-benar gila. Ia bukan hanya membuatku hampir gila karena ketidakpercayaanku terhadap kebutaannya.

——–

Aku sampai dirumah dan menarik nafas berat. Kubuka pintu perlahan, dan sudah kulihat eomma yang duduk lelah di sofa ruang tamu. Aku berjalan jinjit, membuka kenop pintu kamar secara perlahan.

“Eunyoung?”

Suara itu, sangat tak asing bagiku. Ia berdiri dan membalikkan badannya sehingga wajahnya saling berhadapan denganku.

“eomma? Aaaaahh…” aku menggigit setengah dari bibir bawahku. Aku tak tahu apa yang ingin ku katakan pada eommaku yang sedang menatapku serius sekarang. Sial, lidahku benar-benar terkunci.

“Eunyoung-a? Mengapa kau selalu mematikan ponselmu?” tanyanya panik, dan itulah yang setiap hari ia perlihatkan padaku.

“mianhae eomma, bukan aku ingin menghindari panggilan darimu, tapi kau tahu sendiri keadaanku saat ini, jadi berhentilah khawatirkanku”

“wae? Kau malu atas perlakuanku?”

“cukup eomma! Aku tahu itu, tapi tidakkah itu berlebihan? Dengan keadaanku sekarang, kau menyuruhku pulang lebih awal. Dan itu membuat waktu luangku tersisa lebih banyak. “ jawabku dengan nada sedikit keras

“Eunyoung-a, hanya kau yang kupunya sekarang. Bukankah ini wajar?”

“aku tahu, tapi sekali lagi eomma, aku bisa mengatur hidupku. Tanpa kekhawatiranmu, aku akan baik-baik saja”

Aku masuk kekamar, mengunci pintu  kemudian merebahkan tubuhku ketempat tidur. Kunyalakan ponselku, 3 telepon tak terjawab. Dengan tak membukanyapun aku sudah tahu kalau itu eomma.  Melihat ponsel ini membuatku teringat lagi kepada namja babo itu. Segala tentangnya, memenuhi isi memori ponsel ini. Phonebook, galeri, bahkan sampai game. Ingin ku format ponselku ini sampai semua memori tentangnya benar-benar habis dari ponselku. Tapi keberadaanya bukan hanya di satu tempat. . Ini sulit bagiku untuk menghapus segala tentangnya dari hidupku. Tapi begitu banyak tentangnya memenuhi apa yang ku punya. Sial!

Selintas bayangan namja itu hadir. Entahlah, otakku mulai bekerja mengingat-ingat tentangnya. Sudah sekitar 4 bulan aku melihatnya bekerja sebagai pelukis jalanan di Busan Park. Akhir-akhir ini ia mulai mendapat sedikit ketertarikanku. Tapi kurasa sebelumnya ia juga pernah kulihat. Kucoba mengaduk-adukkan kepalaku agar aku bisa mengingatnya. Ya, nihil.

 

Busan Sakshil University – 7 April 2012 07.18 P.M

Apa kau akan pergi ketempat itu lagi dan bertindak gila seperti yang kau lakukan 3 bulan lalu Goo Eunyoung?”

“Ya, tapi untuk kali ini tidak akan seperti itu lagi”

“Pembohong. Apa aku bisa percaya ? apa ibumu mau membiarkanmu kabur lagi ?”

“Cukup Jung-ah! Aku hanya ingin mengisi waktuku di tempat itu! Setidaknya sampai sosok menjijikan itu hilang”

“Menjijikan? Sama sepertimu. Hah~ “

“YAAA!!! Jungahh-ssi!!!!!”

——

Hyunam Park, 11.12 P.M

“BRENGSEK! Mengapa kau lupa memakaikan syal ato penghangat Eunyoung-a!!! Ini adalah penghujung musim gugur. Kembali lagi kerumah? Ayolaah itu lebih buruk!” gumamku dalam hati

Ku menggosokan kedua telapak tanganku satu sama lain. Kusentuhkan pada leher. Setelah itu memeluk tubuhku sendiri. Inilah salah satu efek bila tinggal dekat dengan laut. Malam akan terasa sangaaat dingin, terlebih menjelang musim dingin.

Tak banyak yang bisa kulakukan disini.

Diam.

Tempat ini, semakin mendekatkanku pada dunia laut Busan. Sepi. Aku berdiri, berjalan menuju sebuah tembok tinggi yang membatasi antara laut dan daratan ini.

Ku fikirkan semua kejadian 3 bulan lalu. Tidak, tak harus kuingat. Ingat eomma? Kurasa ia akan baik – baik saja tanpaku. Jung-Ah? Bahkan ia tak peduli lagi tentangku.

Kurentangkan tanganku seperti apa yang dilakukan Kristen Stewart di film Titanic . Disini jauh lebih membuatku nyaman ketimbang berdiam diri dikamar. Miris? Memang. Sama seperti yang aku rasakan 3 bulan lalu. Tapi ini terasa sedikit membaik. Pikiranku jauh lebih tenang disini.

 

“harue hanbeonman neol

saenggakhae deo isangeun

andwae akkyeodulgeoya

Suara itu lagi, nyanyian yang sama. Ya, suara lelaki yang pernah menghentikan langkahku. Dan dengan hal yang sama dia datang lagi. Aiish, apa dia itu malaikat pengiringku? Bagaimana mungkin untuk ke-2 kalinya ia ada disaat aku ada dengan keadaan yang sama?

Kulirik perlahan sosok namja itu. Kudekati ia, tapi ia belum banyak bereaksi pada gerak-gerikku. Ia masih dengan nyanyiannya, lagu yang mengungkapkan rasa cinta.

Angin laut semakin berhembus kencang dibalik kedamaianku atas suaranya. Menyebabkan muncul suara gesekan dari rambutku yang terurai bebas.

“Ada orang?” ucapnya datar, namun tetap terdengar sangat lembut.

Dia? Itu dia? Tak bisa kupercaya.

Ya Tuhan , lelaki itu. Lelaki yang menghentikan langkah kejiku 3 bulan lalu. Lelaki yang hampir membuatku terbunuh hanya dengan menatap matanya yang buta. Oh tuhan, jika dia bisa melihatku, ini sama saja dengan membunuh perlahan diriku dengan tatapan matanya.

Aku benar-benar dihipnotis olehnya. Bukan hanya oleh matanya, tapi suaranya mebuatku tak bergeming sedikitpun.

Goo Eunyoung, mungkin inilah sebabnya eomma menghawatirkanmu. Kau tak akan bisa mengendalikan dirimu dengan orang seperti dia. Sinting. Kau akan menjadi sinting sepulang dari sini.

“Permisi, ada orang disana?” ia mengulang ucapannya, wajar saja karena ia belum tahu pasti akan keberadaanku.

“Aaa.. ne~” aku sedikit terkejut , kurasa koneksi otakku melambat hingga terlamabt pula memberi respon padanya.

“aku… Ingat suaraku tuan…” lanjutkku , tapi terhenti karena aku tak mengenalinya

“Lee Donghae”

“aaaaa!! Itu dia!”

“eh?”

“maksudku, namamu tuan. Aku yakin kau lebih tua dariku. Iya kan?”

Beruntunglah aku karena aku tak seburuk waktu itu, hingga aku tak terlalu canggung berbicara dengannya.

“benarkah? Sok tau kau”

“aish… tapi kau terlihat lebih tua, dan cara bicaramu lebih dewasa donghae-sshi”

“begitukah? Apakah kau masih kuliah?“ ia mendengus dan tersenyum kecil. Dasar pembunuh.

“ne~ kemarin aku baru menyelesaikan D3 ku”

“baiklah, kau lebih muda”

“sok tahu kau”

“aku tahu” katanya sedikit nyolot

Goo Eunyoung, kau terperangkap sekarang . Posisimu yang berubah dari berdiri tak jauh darinya kemudian duduk bersebelahan dengannya menujukkan rasa ketertarikanmu dengan pembicaraan ini, juga dengannya.

——–

Donghae POV

“3 bulan lalu harusnya aku lulus S1 disini”

“Mwooooo?” bisa kubayangkan yeoja ini sedang membulatkan bibirnya. Ya, walaupun aku tak bisa melihat bagaimana wujud dari yeoja yang kini kurasakan sudah duduk disampingku.

“ sebenarnya kebutaanku ini belum lama terjadi . 3 bulan lalu dan seterusnya aku sama sepertimu nona manis” jelasku tersenyum “ 3 bulan lalu adalah masa-masa tersulitku dimana aku kembali menangis , selain karena kepergian appa, kebutaanku juga membuat duniaku seolah kabur, apalagi kelulusanku yang sudah di depan mata yang harus sirna. Aku harus mengulang lagi tahun depan, itupun kalau aku bisa kembali seperti semula” Lanjutku, tak ada tanggapan darinya. Hanya seuara hembusan nafas dan bibirnya yang gemetar yang mampu kudengar.

“Awalnya aku ragu kalau aku akan bisa menjalaninya,tapi ini adalah takdirku, nasibku. Aku tak bisa mengakhirinya semauku. Aku harus merasa senang terhadap hidupku, walaupun sebenarnya ini sangat sangat menyedihkan. Buta bagaikan kehilangan dunia, seperti selalu tertidur dalam mimpi dan tak terbangunkan”

“apa semua lukisan itu milikmu? Apa kau melukisnya 3 bulan yang lalu?”

“Apa harus ku jelaskan? Kurasa kau tak kan ..”

“Jelaskan! “ Ia memotong pembicaraanku, dan itu sedikit mengejutkanku karena aku tak bisa tahu reaksinya akan seperti itu.

Aku menghela nafas dalam-dalam dan mulai memaparkan ceritaku pada yeoja yang begitu ingin banyak tahu tentangku.

——-

 Eunyoung POV

Lee Donghae.

Ya, sosok itu.

Setelah mendengar semua ceritanya, ia buatku merasa kalau hidupku tak ada harganya sama sekali.

“ini semua berasal dari seorang yeoja. Yeoja yang bahkan aku tak tahu siapa namanya, ia tak ku kenal sama sekali, namun hatiku mampu mengenalinya. Seperti orang bodoh, aku selalu mengikutinya. Ia juga menjadi awal semangatku untuk melukis tanpa melihat yang awalnya tak bisa kulakukan sama sekali. Setelah itu kutahu, ini hanyalah masalah cinta”

Dapat kucerna semua detil perkataanya. Kalau bukan karena harga diri, aku ingin sekali berteriak kepadanya agar kau bisa melihat dan menatapku sekarang . Setidaknya kau harus tahu bagaimana ketertarikanku padamu saat ini.

Tapi itu bodoh Goo Eunyoung. Dia Buta.

Kalau saja aku tahu kalau orang ini telah buta, bahkan saat kejadian itu, kurasa aku takkan bisa melihatnya lagi.

“Oh Tuhaaan, bisakah aku dilahirkan kembali dan hidup sebagai wanita itu?” kataku tanpa sadar

“mwo?” dia tak sadar dengan ucapanku

“lupakan” jawabku singkat

“Oyah, sebelumnya siapa namamu nona? Kurasa akan lebih nyaman bila aku memanggilmu dengan namamu.”

“Goo Eunyoung, Eun untuk permata dan young untuk jiwa”

Ia tersenyum setelah mendengar penjelasanku. Aaaaaaa aku akan dikira mabuk oleh eomma sepulang darisini.

———-

Busan Sakshil University – 9 April 2012 04.17 P.M

Aigoo~ neomu yeppo. Jeongmal”

“Jinjja? Gomawo”

“Jungah-ssi, mengapa kau tak ikuti jejak kakakmu hah? Wae? “

“Aniyo~ aku dan unni itu berbeda Eunyoung-a”

“Wae? Kau sama cantiknya dengan unni-mu”

“Kau kira aku bisa lakukan apa yang ia lakukan? Aku tak berbakat sama sekali menjadi seorang model”

“Mwooyaaa? Tidak berbakat? Lalu ini apa?” kubuyarkan semua fotonya dari tanganku ke meja . “Semua foto curian orang disini, kau masih mau mengelaknya?”

“YAA! Memangnya kenapa dengan foto-foto itu?”

“Lihat disetiap foto, kau bahkan terlihat natural dengan posemu yang seperti model dalam segala hal yang kau lakukan. Entahlah apa karena para stalkermu itu terlalu hebat, ato kau memang berbakat.”

“Ahh… itu kebetulan, ssh cukup eun..”

“Aniii~ hahahahah” olokku

“YAA!! Hentikan !!! “

Aku hanya bisa terkekeh karena bisa mengolok-oloknya lagi hari ini.

“Eunyoung-a..” panggilnya pelan

“Nde?~” jawabku dengan masih sedikit tawa yang tersisa

“Apa keadaanmu membaik sekarang?”

“Ye?”

Baiklah, keadaan serius sekarang.

“Ne, kurasa .. Wae?”

Tiba-tiba Jungah memelukku erat sambil berjingkrak tak karuan.

“KYAAAAAAA!!!! AKU MENCINTAIMU GOO EUNYOUNG”

“YAAAAAA!!! JUNGAH-SSI, AKU EHHHH… AKU SEESAAAAAK” jeritku

Dia sedikit melepas pelukannya dan menatapku.

“Kau tau? Aku merindukanmu yang seperti ini. KYAAAAAAA”

Dan dia kembali melakukannya.

“YAAA! JUNGAH, AKU.. AAAAAH SSEE..SAAAK!! TOLOOOONG AKUUU SIAA PAAPUUN”

———-

 

Busan Tower Park – 9 April 2012 06.15 PM

 

 

Donghae POV

 

 

Kuraba seluruh permukaan tanah dengan tongkatku. Aku tak pernah menggunakan kacamata sama sekali, itu semakin menunjukan kelemahanku. Dengan membawa sebuah tas gendong berisi alat lukis dan bebrapa lukisannya yang ku gendong setengah tali.

Aku merasa mulai bosan sekarang. Tak ada teman yang bisa ku ajak bicara. Kim sonsaengnim, aku tak hafal jalan menuju ke kampus dengan keadaanku sekarang. Kalupun bisa, aku tak akan bisa pulang. Namdongsaengku, Kibum. Ia pergi 3 bulan lalu diamana itu adalah hari yang seharusnya adalah hari kelulusanku dan dia. Padahal seharusnya ia menyelesaikan studinya bulan itu. Dan yeoja yang bernama Goo Eunyoung? Sudah 2 hari kemarin ia tak menemuiku. Cukup asik berbicara dan bercerita dengan orang polos sepertinya. Ia begitu tertarik akan ceritaku. Aku kira ia akan menemuiku setiap hari setelah pertemuannya sehari denganku.

“ehem”

Seseorang berdehem dan memegang tanganku dari belakang. Menjadikan aku berhenti dengan langkahku.

“annyeong? “ tanyaku memastikan bahwa orang yang telah menyentuhku adalah orang yang kukenal

“Donghae-sshi?” Ku perhatikan setiap detik suaranya, ya aku kenal suara itu

“Eunyoung-a?” tanyaku sedikit heran

“Ku kira kau sudah lupa”

Aku tersenyum kecil. Kukira dia tak kan pernah lagi menemuiku.

“Ada waktu?” tanyanya seiring menuntunku berjalan kembali

“Ye~ ?”

“Ikut aku” ia menarikku dan mengajakku berlari kecil

Aku tak tahu kemana ia akan membawa langkah-langkah kecilku ini. Aku merasakan hawa sedikit dingin ketika aku tahu kalau yeoja ini sepertinya menuntunku ke sebuah ruangan. Bau ruangannya seperti..

Kopi?

 

“Kau membawaku ke Hartash Garden?” tanyaku setelah aku duduk di sebuah sofa empuk

“Ne~  Kau pernah kesini?”

“Ne~ terakhir kurang lebih sekitar 6 bulan lalu”

“Donghae-sshi..”

“Tunggu, bisakah kau panggil aku oppa saja? Tidakkah hubungan kita ini bisa dikatakan sedikit dekat?” Sela-ku memotong pembicaraanya

“Arayo~ hajimaaan… “

“wae?”

“Ani… lupakan”

Hartash Garden Coffee shop, Busan – 06.45               

Eunyoung POV

 

“Caffe Misto. Dong.. ahhh maksudku, oppa. Kau mau pesan apa?”kataku seraya membaca buku menu

Baiklah, memanggilnya oppa terasa canggung untukku. Dan ia tanpa berpikir panjang menyebut kalau hubunganku dengannya sedikit dekat. Ini baru kedua kalinya aku bertemu dengannya, bahkan kami tak banyak bicara. Seperti itukah ia menyebut kedekatan kami?

Kulihat ia sedikit cengengesan melihatku memanggilnya oppa, membuatku sedikit salah tingkah

“Ya! Kau pikir aku tak tahu kalau kau menertawakanku? Kaja! Katakan apa yang akan kau pesan”

“Geurae, bacakan apa saja menunya”

Paboya! Mengapa aku sama sekali tak ingat kalau ia buta? Aish~

Caffè Misto ,coffee traveler, espresso con panna, caramel machiato, cinamon dolce la..“

“Caffe Misto” sergahnya

“Mwo? Kau suka juga?”

“A- ani.. aku hanya menyamakan denganmu”

“Aigooo~ lalu mengapa kau menyruhku membacakan menunya? Aish~”

Ia terkekeh lagi , apa ia ingin main-main denganku saat ini?

Hening. Kini pemandangan itu lagi yang kulihat. Matanya.

“Eunyoung-a?” ucapnya sedikit berbisik dan sedikit mengagetkanku

“de?”

“Kenapa kau diam?”

“Ne? Aa.. ani..emm aku ..”

Ada apa dengan mulutmu Goo Eunyoung? Katakan sesuatu.

“Jujur padaku, apa kau sedang menatapku?”

YAAA!! Aku harus jawab apa???? Ini gila. Dia bertingkah seperti peramal. Bagaimana dia tahu? inikah yang dinamakan feeling seorang tuna netra?

“ye” jawabku dengan nada yang semakin surut

Ia mencoba meluruskan pandangannya denganku. Dan

DEG..

Tidak salah lagi. Ya, tidak salah lagi. Ia membalas tatapan ku,wajahnya kini sejajar denganku. Aku bisa-bisa meragukan kalau ia buta.

Sistem kerja otakku runtuh. Hanya dengan mata itu. Ya, matamu donghae-sshi.

“emm.. uuuhh” ucapku agar sedikit mengalihkan rasa perhatianku terhadapnya. Sejujurnya aku bingung topik apa yang akan kubahas dengannya

“ne?”

“Yaa! Maksudku , umm … oppa! Apa kau sudah belajar huruf braille?” Sejujurnya aku bingung topik apa yang akan kubahas dengannya

“Mwooo? Hahaha”

“Wae? Kenapa kau tertawa ? “ tanyaku heran

“Ani~ Maksudku, untuk apa aku mempelajarinya? Aku sudah cukup pintar, aku sudah menempuh hampir semua mata pendidikan. Hanya saja langkahku sedikit terhenti eunyoung-a, hahahaha”

“Yaaa! Kau pikir kau pintar? Hah.. jangan kira kau bisa mengalahkanku Donghae-ssi” ucapku lantang

“Aku?? Tentu saja, lihatlah nanti kalau akan datang sebuah berita di media ‘Si Buta dari Busan berhasil mengalahkan Nona Manis dalam kompetisi kepintaran’ hahahaha”

“Maka aku yakin kalau berita itu takkan pernah terbit . ahaha”

———

Pertemuanku hari ini dengannya cukup hingga jarum jam di tanganku tertuju pada setengah dari angka 8. Ya, hanya cukup 2 jam lebih 15 menit terlihat bodoh di depannya untuk hari ini. Apalagi setelah tatapannya tadi, aku lebih banyak diam.

“Youngie?”

Youngie? Apa itu sebuah panggilan baru untukku? Baiklah, kali ini aku berhutang padamu Donghae-ssi karena sudah membuat sebuah sunggingan di bibirku.

“Ne?”

“Gomawo untuk hari ini” ucapnya lembut

Dan tambah satu lagi sunggingan di bibirku. Tanpa bisa kau lihat oppa, hari ini aku telah banyak tersenyum didepanmu.

“Ne.. juga untuk waktumu untukku oppa” jawabku

“Mengapa kau jadi tak banyak bicara begini Youngie? Apa kau sakit?”

“Ani.. aku hanya bingung dengan apa yang harus aku katakan padamu oppa.. ini tak semudah yang dibanyangkan, tapi bisa berbicara dengan lancar di depanmu adalah sesuatu keajaiban”

“Haha.. kalau begitu , cukup diam pun aku senang “

Dan kami berpisah di jalan ini, di Busan Tower Park.

———-

Author POV

 

Lelaki setengah baya itu semakin dekat dengan kediamannya yang tak jauh dari tempat dimana bekerja sebagai pelukis.

Ia tak hentinya meyentuhkan sepatah demi sepatah tongkat yang tergenggam di tangan tegarnya ke tanah. Hingga akhirnya seorang memanggil namanya dari belakang.

“Donghae-ssi”

Suaranya semakin mendekati dirinya. Ia pun berbalik tak menentu arahnya. Dan orang yang memanggilnya tadi memeluknya erat tanpa terduga.

“Sung Jung?”

Gadis yang memeluknya itu melepaskan pelukannya dan menatap penuh arti kepada Donghae. Tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi pada pria tampan itu yang sama sekali tak membalas tatapannya.

“Kau? Ada apa denganmu? Kau tak bisa melihatku? Apa kau rabun oppa?”

“Kau tak bisa melihatku SungJung? Hentikanlah, dan lepaskan tanganmu dari bahuku”

Merasa risih, donghae pun melepaskan tangan Sungjung yang masih menempel pada bahunya.

“Jadi kau buta? Wae? Jangan pernah mempermainkan aku lagi oppa” ucapnya panik

“Ani.. aku tak pernah berbohong kepadamu Sungjung, bahkan atas perasaanku sendiri. Pergilah, ini sudah malam Sungjung. Tak penting bagimu menemuiku lagi , apalagi dalam keadaan seperti ini”

“Andwae!! Sampai kapan kau akan seperti ini oppa? Bisakah kau seperti dulu lagi? Tetap mencintaiku?”

“Lupakan hal itu .. aku lelah dan inin beristirahat. Jadi pergilah”

Donghae berbalik dan kembali berjalan meninggalkan perempuan di depannya tadi. Ia mengacuhkan yeoja itu tanpa kata pamit sedikitpun.

“ YAAA!! Donghae-ssi!!! Kau pikir aku masih akan diam saja? berhenti!!”

Lelaki itu tak menghiraukan panggilan SungJung. Ia terus berjalan. Sementara SungJung tak hentinya meneriaki nama namja ini.

Sampai akhirnya ia lelah da menghampiri sosok yang mengacuhnkannya itu.

“YAA!! Berhenti hah!! Berhenti mengacuhkanku !!” ucap sungjung sedikit berteriak di depan donghae. “YAA! Bagaimana kalau kebutaanmu adalah sebuah karma dariku atas keacuhanmu Donghae-ssi?”

“Karma? Tidak. Kebutaan ini bukanlah sebuah karma ataupun kutukan untukku Sungjung. Ini adalah takdirku” jawabnya santai “Lagipula kenapa tidak kau urusi saja cintamu pada adikku? Dia jauh lebih mencintaimu sekarang daripada aku”

“Maksudmu Kibum?” balasnya

Yeoja itu mematung atas perkataan yang baru saja ia dengar. Sesaat kemudian Donghae berjalan kembali , tanpa ada sedikitpun dorongan, yeoja itu tak mengikutinya lagi. Ia menatap setiap langkah namja itu. Ia tak pernah menduga bahwa sosok yang dulu sempat mencintainya itu menjadi rapuh dengan tongkatnya.

“Kau menyedihkan Lee Donghae” batinnya.

———-

Busan ,  08. 12 P.M

 

Eunyoung POV

Ini nyata? Oh Tuhaaan, kau pertemukan aku dengan sebuah penghangat hati. Tanpa apapun, tanpa daya, aku tak bisa mengendalikan hatiku sendiri bila di hadapnnya. Bahkan ketika pertemuan pertamaku dengannya.

Sepanjang jalan menuju rumah hanya dia dan dia yang terpikirkan. Aku menjadi banyak melamunkannya, tanpa memperhatikan kakiku yang berjalan. Beruntunglah aku karena Busan sepi di jam-jam ini. Karena kalau tidak, mungkin aku sudah tertabrak.

Ini sudah pukul 8 lewat 12 menit. Aish , langkahmu jauh lebih lambat Goo Eunyoung.

Kubuka gerbang rumahku, kurasa eomma belum tidur karena semua lampu masih menyala. Dan benar saja, saat pintu utama terbuka, eomma sedang terduduk menonton TV seorang diri di ruang keluarga.

“Aku pulaaaaang” seru ku

“Ye… kau sudah makan Eun?” ucap eomma tanpa melihat kearahku.

“Ye.. aku sudah”

Tak ada respon lagi. Maka aku membuka pintu kamar dan menguncinya. Kusandarkan tubuhku ke dinding pintu, memegang dadaku yang masih tak karuan berapa banyak getarnya. Dan kemudian mengambil Handphoneku.

“Yoboseyo..Jungah-ssi?”

“Ye? Mwoyeyo Eunyoung-a?” jawabnya dari sebrang

“Jungah-ssi, kau tau bagaimana rasanya jatuh cinta dipandangan pertama?” kataku bergetar. Aku menarik nafas panjang dan mencoba menruskan apa yang akan aku ucapkan padanya “Kau tau? Aku merasakannya sekarang”

———

-TBC-

Gomawo yah atas responnya kemaren readers .. *kiss hug buat readers* makin semangat nih buat nerusin Ffnya J . hehhehehe… masih butuh kritik ama sarannya nih, bantu yaa bantuu hehehe . komen dari readers dibutuhiin banget. Gomawoo~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s