Like An Idiot (Part 1)

Like an idiot (part 1)

Title: Like an idiot (part 1)

Author : a.k.a amengamhae

Cast : Lee donghae Super Junior.

Category  : Angst, Romance

 

Aku menatapnya tepat di bola matanya. Mata yang membuatku menjadi orang terbodoh karena mau menatapnya. Mata yang tak akan memberi balasan atas tatapanku. Mata yang bahkan tidak tahu kapan aku telah menatapnya. Ya, mata yang mebuatku melihat ada cinta didalamnya.

___

BUSAN IMPERIAL ART HALL – 8 Oktober 2011 14.46 PM

Aku berjalan menuju pagelaran seni disebuah gedung di daerah Busan , Korea Selatan.

Kukira takkan ada banyak orang yang hadir ke pagelaran seperti ini, banyak turis-turis dari dalam ataupun luar Korea yang ternyata tertarik. Banyak lukisan yang mendorong kakiku harus berjalan terus menerus berkeliling seluruh bagian gedung ini dan mengambil semua gambar dari kamera SLRku.  Sudah hampir tiga perempat bagian ruangan gedung ini ku tapaki, sampai aku menemui sebuah lukisan milik  Kim Hong Do yang telah meninggal beberapa ratus tahun lalu dipamerkan disini. Tak jauh dariku, berdiri seorang wanita yang juga melihat beberapa karya dari pelukisa terkenal yang karyanya dipamerkan digedung ini. Sebenarnya ia tak begitu special. Ah, ani… maksudku mungkin orang lain mungkin akan melihat dia seperti itu tapi tidak denganku. Entahlah,menurutku bahkan dia lebih bagus dari sebuah objek lukisan.

Yeoja itu , aaaahh…

Ia berjalan menjauh dariku. Kurasa ini saatnya kameraku beraksi. Aku mengambil beberapa foto darinya dan kemudian berlari kecil untuk mengikuti kemana yeoja yang memberiku setumpuk nikotin hingga akal sehatku teracuni ini. Ia berjalan tak henti-hentinya, sampai ia berhenti disebuah butik pakaian wanita. Banyak pula para wanita yang berkumpul disana. Sepertinya sedang ada perkumpulan khusus. Aku baik-baik saja sampai ada seseorang yang membuatku menggertak dan membuat yeoja itu begerdik menyadari keberadaanku.

“ YAA!! Donghae-ssi? “ seseorang menepak bahuku dari belekang , sontak membuatku kaget dan meliriknya

“ aish.. Kibum-a!!!”

“ sedang apa kau dis..”

“ssshh..” ku acungkan jari telunjukku di bibir, memotong apa yang akan ia katakan.

Kurasa Kibum mengerti akan isyaratku, ia diam dan melihat tajam kearahku. Kurasa begitu.

Sepintas kulihat yeoja itu sedikit menoleh kearahku dan kembali lagi dengan perhatiannya terhadap perkumpulan yang sedang ia gandrungi bersama banyak temannya. Sekitar 7 menit bola mataku hanya fokus pada yeoja yang berada tak jauh didepanku dan tak menimbulkan reaksi apapun terhadapnya.

“Kibum-a?” kataku berbisik sambil mengayuhkan tangan kiriku kebelakang

Tak ada jawaban

“kibum-a?” kataku lagi

Masih tak ada jawaban

Akhirnya kuputuskan melirik kebelakang untuk memastikan dimana namja yang lebih tua dariku itu berada. Nihil, sepertinya dia sudah pergi beberapa menit yang lalu tanpa aku tahu. Kurasa ia bosan atas diam yang kulakukan tadi. Menatap yeoja itu membuatku bahkan tak tahu apa yang ada di dekatku. Termasuk Kibum, namdongsaeng yang sudah sekitar 5 tahun berada denganku, dimulai saat kami sama-sama akan menempuh pendidikan di Busan. Sebenarnya aku tak mengerti mengapa dia ingin meneruskan kuliahnya di Busan, dia bahkan lebih pintar dan keluarganyapun lebih berkecukupan dariku. Apalagi dia berasal dari Seoul yang notabenenya lebih lengkap dari apa yang ada di Busan. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya sehingga dia lebih memilih busan sebagai tempat dimana dia bertahun-tahun akan menjalani hidupnya disini.

***

“Ya! Kau sedang apa?”

“Aku? Hanya mencari pemandangan”

“ Pemandangan? Bagaimana kau bisa melihat sebuah pemandangan hanya dengan memegang kameramu itu hyung?”

“Pemandangannya ada disini Kibum-a”

“Menurutmu kau akan puas hanya dengan memandanginya dari situ?”

“Tentu, ini akan sangat baik bagi pengelihatanku” jawabku dengan penuh percaya diri.

Kibum diam. Kami sama-sama terdiam. Aku dengan keasikanku memandangi foto-foto hasil jepretanku tentang yeoja itu. Dan kibum, entahlah..

“Kibum-a..?” aku memulai mengusik diam kami.

“Ne?”

“Bagaimana hubunganmu dengan…”

Baik, aku lupa namanya.

“Siapa?” tanyanya heran

“Tunanganmu itu. Kapan kalian akan menikah?”

“Hahaha.. aku saja belum bekerja hyung. Kau semakin gila”

Ia terkekeh mendengar pertanyaan yang spontan keluar dari mulutku. Kurasa ini pengaruh yeoja itu yang telah berhasil menguras semua kenormalanku.

“Kenapa kau tak pernah memperlihatkannya padaku Kibum-a? Jangan pelit terhadap hyungmu ini. Apa dia cantik?”

“ANDWEE! Kalau aku menunjukkannya padamu, kau akan jatuh cinta padanya!”

“Kalau dia cantik mengapa tidak? Hahaha” jawabku terkekeh

“ANDWEE!! Tidak untuk saat ini. Kenapa kau tak fikirkan saja Sungjung?”

“YAA! Hentiksn mengungkapnya. Dia terlalu bodoh karena menolakku 2 tahun lalu. Aku yakin dia menyesal sekarang”

“Lalu kau dengan mudah menolaknya saat dia bisa menerimamu hyung?”

“Salahnya sendiri menolakku duluan, aku lelah mengejarnya selama 2 tahun. Rasakan saja sekarang akibatnya” ucapku jujur.

“Kalau begitu berikan saja ia untukku”

“YAAA!!!”

Aku menaruh kameraku dan sesegera mungkin menjitak kepala dongsaengku.

***

Semakin hari aku semakin tertarik pada yeoja itu. Waktu setelah kuliah hanya kuhabiskan dengan mencari sosok yeoja yang belum aku tahu namanya sama sekali.

Pekerjaanku kini adalah, seorang ‘Stalker’ dari seorang UnNamed yeoja. Walau ketertarikanku terhadapnya semakin besar, tapi entahlah, aku masih belum tertarik untuk mencari info tentangnya. Kali ini, ia hanya sebagai penyadaran bagiku agar aku bisa lebih bersyukur atas diciptakannya mata ini.

Kali ini aku akan mencoba mencuci fotonya di ruangan cuci fotoku di dalam kosan.

“Aisshhh~ lama sekali “ desisku

Tok..tok..tok..

“Masuklah Kim Kibum. Aku tahu kau yang ada disana” Kataku sedikit berteriak karena jarak ruang ini dengan pintu masuk yang cukup jauh.

“Hyung? Kau dimana?” tanyanya yang juga sedikit berteriak

“Tunggu sebentar”

Aku meninggalkan pekerjaanku dan beralih menghampiri kibum yang bersabar menungguku.

“Ada apa Kibum-a?”

“Ani~ aku hanya ingin memberikan buku ini hyung” jawabnya sambil memberikanku sebuah buku

Babo cheoreom wae mulranneunji
Babo
cheoreom wae geu daereul bonaen geonji

 

Sebuah telepon masuk lewat ponselku.

“Yoboseyo?”

“Lee?” tanya si penelpon

Aku terdiam sejenak, seperti mengenal orang yang meneleponku. Ya, suara dan gaya memanggilku yang khas.

“Kim sonsaengnim?”

Aku pamit keluar kepada Kibum yang baru saja terduduk untuk melanjutkan pembicaraanku dengan Kim Sonsaengnim. Dia, bukan hanya dosen bagiku. Dia adalah alasan mengapa aku bisa tetap bertahan hidup perih dikota Busan sebagai seorang potografer media cetak kota yang bahkan gajinya tak mencapai 100 ribu won, disamping menjadi mahasiswa yang hidup dengan beasiswa.

Ya, di Busan. Yang kupnya hanya Kibum, kameraku, dan Kim sonsaengnim. Mungkin akan bertambah dengan yeoja itu..

***

Studi akademis dan seniku berakhir bulan depan. Ini sudah sekian kalinya aku merasakan kelulusan di Busan. 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menempuh pendidikan yang jauh dari kota asal. Namun 5 tahun tak akan terasa jika ada seseorang yang membuat hidupmu merasa bisa lebih menikmatinya.

Kim sonsaengnim telah lama mengajar di Universitas ini, banyak pelajaran hidup yang bisa kupelajari darinya. Ia bahkan mengajariku bagaimana cara melukis tanpa melihat.

“dengar, jika kau benar-benar mencintai sesuatu, pandanglah dia dengan hatimu. Maka kau akan benar-benar merasakan apa yang dinamakan sebuah cinta”

Itulah yang dia katakan ketika akan mengajariku melukis tanpa melihat. Tapi saat itu membuat garis dengan benarpun sama sekali tak bisa kulakukan. Padahal isntingku sudah benar-benar memastikan kalau garis itu akan bagus. Yang ku tahu adalah, aku masih belum bisa merasakannya dengan hati.

Semenjak itu, aku tak pernah mencobnya lagi. Setidaknya sampai aku menemukan yeoja itu.  Dan Kibum, menyebutku gila karena aku mencoba melukisnya tanpa melihat.

“Hyung? Kau sudah gila… apa kuliah selama 5 tahun ini membuatmu semakin tidak waras?” uacpnya dingin

“ssshhh… berhentilah mengoceh , tidakkah kau lihat aku sedang melakukan apa kibum-a?” jawabku dengan mata yang tertutup kain .

“Sedari tadi aku telah melihat kegilaanmu hyung, kau yang selalu menutup matamu dariku dengan menggunakan penutup itu”

“Baiklah, aku menyerah. Kibum, kurasa kalau 1 atau 2 tahun lagi aku masih tetap bersamamu, maka aku akan terbunuh dengan omongan dinginmu itu .” kali ini aku membuka penutup kepalaku .

“Hyung~”

“ne?”

“sebenarnya siapa yeoja yang ada di lukisanmu itu?” tanyanya datar

“mwo? Aaaa… dia ? entahlah, akupun tak tahu. dia cantik kan? ”

“pembohong” pekik Kibum

“mwoya?? Maksudmu apa Kim Kibum?” Jawabku sedikit menyentak, namun ini tetaplah sebuah canda antara hyung dan dongsaengnya.

“Sudahlah hyung, hentikan kegilaanmu” suaranya menciut setelah sedikit sentakan dariku tadi

“Kibum-a? Kau sedikit berbeda akhir-akhir ini. Selama 5 tahun kebelakang kau tampak baik baik saja. Gwaenchanayo?”

“Ani, aku masih tetap dingin seperti ini. Waeyo?”

“aaaa… bukan begitu, tapi…mmmmmhhh” aku sedikit bergumam dan menutup mulutku dengan 5 jari yang tak merapat.

“begini,  ku akui kau memang dingin, tapi … ini beda . kau sedikit lebih kasar padaku. Waeyo?” lanjutku

“Jinjja? Hyung, sudah selama ini kita saling mengenal apa kau..”

“cukup, katakan itu nanti. Aku akan menyegarkan mataku. Mianhae. Hahahahah “

Aku mengambil kamera SLR dan lukisan yeoja tadi yang belum selesai , kemudian memasukannya kedalam tas dan pergi meninggalkan Kibum yang menatapku benci karena perlakuan biadabku tadi.

Busan Tower Park , 15 Oktober 2011 04.22 PM

Aku berjalan di sepanjang jalan Busan Tower Park , mencoba mencari objek yang pas untuk kufoto.  Banyak orang yang berlalu lalang disini. Tetapi keindahan dari tampat ini masih tetap menakjubkan. Ini adalah sebuah nikmat yang selalu aku rasakan setiap hari.

Kurasa kini saatnya aku bergerak . Aku keluar dari Busan Tower dan masuk ke jalan.

Dan yeoja itu datang di depanku.

Kuarahkan lensa kameraku kearahnya, kutekan tombol kamera beberapa kali. Saat itu , kuarasakan sebuah mobil seperti akan mendekatiku dengan kecepatan yang tak bisa ku ukur. Sangat cepat.

Kakiku seolah mematung dan membuat aku tak bisa menghindari kecepatan mobil itu. Mataku membulat. Dan tiba saat ketika aku harus menghadapi keadaan dimana mobil itu mengenaiku dengan keras. Kamera yang ku genggam lepas dari tanganku. Tubuhku ambruk , melewati atap mobil itu dan jatuh kembali ke jalan. Kepalaku terbentur bahu jalan, dan beberapa kerikil jalan mengenai mataku. Seketika tubuhku kaku dan pandanganku menjadi kabur..

Semua menjadi gelap.

***

Author POV

Kecelakaan pada jam 4 itu hampir saja menewaskan dirinya. Hampir saja ia menjadi mayat tabrak lari. Keadaannya kritis saat ini. Ia yang malang, masih terbaring koma di kamar pasien rumah sakit.

1 bulan kemudian..

Jari-jari tangan pria itu bergerak perlahan seperti menandakan kalau ia akan terbangun dari tidurnya selama ini. Ya, 1 bulan ia menikmati tidurnya tanpa terganggu sedikitpun. Malaikat telah mengembalikan nyawa ke tubuhnya.

Dokter yang menangani namja itu keluar  dan mencari seseorang yang ada kaitan dengannya.

“Donghae-sshi.. “  dengusnya. Ia menghampiri Kibum yang tengah duduk di bangku.

“Ne? Apa dia sudah sadar?” tanya Kibum cemas.

“Ne~ hajiman.. “

“Mwoya? Katakan padaku? Apa ada sesuatu yang salah padanya?” Kibum semakin menjadi, ia panik tak karuan.

“Ia mengalami kerusakan pada jaringan otak..dan haaah” dokter itu menarik nafas sejenak “Kornea matanya rusak. Ia mengalami kebutaan Kibum-sshi”

“Apa?” …

-TBC-

***

SELESAAAI … part 1nya . Dimohon komennya yah J

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s