g kjmg mgvmnh

jmgbjmgbjm b

Iklan

[FF] Like An Idiot Part 3

Like An Idiot Part 3

Author : 황민미a.k.a Amengamhae

Genre   : Romance

Cast       : Lee Donghae

Don’t hurt anymore, don’t cry anymore
I’m going to watch over you, we’ll be together forever
Believe in love, don’t be scared anymore
I’m standing in front of you like this, telling you I will make you happy

 

 —————————————————————————————————————————————–

 

 

Pyondeuri Cafe, Busan 10 April 2012 – 10.11 A.M.

Author POV

 

Eunyoung mengaduk-aduk jus alpukat yang ada di depannya perlahan, kemudian meniup sebagian minuman itu.

“Yaa! Mengapa kau menutup teleponmu semalam? Kajaa! Katakan siapa dia?” Seru Jungah yang sedari tadi hanya mengutak-atik ponsel temannya itu. Mencari sebuah informasi.

“Bagaimana kalau aku tak ingin memberitahunya padamu?” Eunyoung menghentikan aktifitasnya menatap kearah Jungah

“omonaa.. kau sombong sekali. Geurae, katakan saja dia itu seperti apa. Apa dia setampan Robert Pattinson? Won Bin? Atau Song Seung Heon? “

Eunyoung menunduk dan kembali memainkan sedotan di gelasnya.

“Mollayo.. kurasa dia bisa lebih tampan, indah, bahkan berkarisma dari mereka. Ini justru lebih indah dari apa yang aku rasakan sebelumnya”

“Wooo… Eunyoung-a, apa dia tahu kalau kau menyukainya”

“Ani..” jawab Eunyoung singkat

“Mengapa kau tak memberitahunya saja?”

“Ani.. aku tak mau”

 

“Waeyo? Apa dia ..”

“Ya, dia punya cinta lain Jungah, aku tak ingin hadir dalam cintanya yang lain” selangnya disaat Jungah belum meneruskan pembicaraannya “Ini semua soal pengorbanan. Tanpa yeoja itu tahu, ia telah banyak berkorban untuk wanita itu. Cinta itu…hhh.. andai ia berikan cinta itu kepadaku”

“Eunyoung-ssi..” panggil jungah

“Mmmmh..? Ya! Ya! Ssi?”

“Kau terlihat lebih dewasa dariku unni”

“Yayaya… terserah-mu nona Jung” Jawab Eunyoung seraya berdiri dan meyelendangkan tasnya.

 

——————————————————————————————————————————————

 

I’m risking my life, I’m risking my life
In order to love you I’m risking even my life
Do you know my heart, the heart that keeps wanting to see you?
In order to love, I’m risking my life….

———————-


Eunyoung POV


Aku harap Donghae oppa suka ini. Seporsi Jajangmyun ikan yang kubuatkan khusus untuknya. Tapi ini tidak benar-benar aku sendiri yang membuatnya, tentu saja atas bantuan ‘tangan dapur’ eomma. Hehe..

Seperti biasa, aku akan menemuinya di tempat biasa kami bertemu. Ya, di Hyunam Park.

Hyunam Park, Busan 10 April 2012 , 05.18 P.M

Kulirik jam tanganku.

“Baru jam 5 lebih 18 menit, asih.. diamana diaaa” dengusku.

Hey, dimana namja itu? Ini bukanlah jam dia pulang kerumahnya. Bahkan melihat STAN kerjanya saja tidak. Apa dia ke Tower Park? Kurasa tidak, terlalu menantang untuknya ke Busan Tower di jam-jam seperti ini karena dia akan terlibat bahaya dengan banyak orang yang melintas. Apa dia ke dekat pantai? Maka seharusnya aku bisa melihatnya dari sini sekarang.

Aishh… Donghae-ssi, dimana kau? Aku bingung seorang diri berdiri disini membawa jinjingan makanan untukmu.

 

“Hssss… Paboyaaa! Mengapa kau tak menggunakan ponsel saja? Aku tidak akan linglung seperti ini” dengusku lagi .

Ya Tuhaaan.. pertemukan aku hari ini dengannya. Apa ia memang tak ada disini hari ini?

 

Aku menghampiri seseorang yang sedang menyapu dedaunan kering di bawah lampu jalan. Aku tak boleh diam saja. Kurasa menanyai penyapu jalan itu bisa menjadi jalan keluar.

“Ahjusshi.. bisa ku tanya sesuatu?” tanyaku padanya

Ia berbalik da menatapku. “Ya nona manis? Ada yang bisa ku bantu?”

“Apa kau melihat pelukis buta yang sering duduk disana hari ini?” aku menunjuk kesebelah barat tempat dimana Donghae biasanya.

“Maksudmu Lee? Kurasa dia tidak pergi melukis hari ini”

Lee ? Mengapa Ahjussi ini hanya memanggil marganya?

“Kau tau dia? Bisa kau tunjukkan padaku rumahnya Ahjussi?”

“Kau hanya tinggal berjalan sedikit dari Busan Tower, carilah gang kecil yang ditandai batu merah besar, dan rumahnya bisa terhitung 5 meter dari jalan masukmu”

“Ne, kamsahamnida Ahjussi”

 

Aku pamit kepadanya dan pergi menuju kediaman Donghae oppa. Semoga aku ingat akan petunjuknya..

 

————————————————————————————————————————————-


Donghae POV

Entahlah, keadaanku hari ini memburuk. Tak seperti biasanya. Selama 5 bulan, baru sekali aku seperti ini. Aku biasa makan dengan Pak Jang , tapi tidak untuk hari ini. Hsssh.. aku sangat lapar. Aku bangun dari kursi, dan sedikit menyegarkan wajahku yang kurasa kusam. Tak nyaman tidur dikamar, sedikit sumpek. Jadi aku hanya menghabiskan waktu selama 17 jam tidur dan mendengarkan lagu . Bisa dibayangkan betapa buruknya itu.

Tok Tok Tok

 

Seorang mengetuk pintuku, yang kuingat aku tak menguncinya.

“Ye, kau boleh masuk”

“O..Oppaaa??? Waeyo??? Gwaenchana? Omooo..” seorang wanita langsung meluapkan ekspresinya terhadapku ketika ia masuk.

“Ani.. hanya demam biasa” jawabku tersenyum kecil padanya

“Apa kau sudah makan? “

Aku belum lama mengenalnya, tapi haruskah ku jawab jujur kalau aku memang sedang lapar sekarang? Baiklah, kurasa aku harus jujur padanya, mengatakan kebohongan padanya sama saja menunjukkan kau semakin terlihat lemah Lee Donghae

“Ya, aku lapar sekarang. Kau membawa makanan untukku?”

 

“Tentuu, kau tau apa yang kubawakan untukmuuu???” dia terdiam sejenak dan sesaat kemudian aku mencium bau ikan “Taraaaaaaa… Jjangmyun ikaaaaaannn”

 

“WHOAAAAA… Jjangmyun ikaaaan? Jeongmaaal?” Aku mulai sedikit terbangunkan akan kabar tentang Jjangmyun itu. Lemas? Tidak lagi. Ahh.. aku tak sabar memakannya.

“Kau tahu? Ake membuatnya dengan tanganku sendiri. Dan ini, special untukmu. Perdana. Jadi, habiskan sampai tak ada yang tersisa”

 

“YAA! SIAPA TAKUUT! Kau kira bisa mengalahkan nafsu makan ketika sang Lee Donghae sedang lapar?” godaku

Tak ada respon sama sekali darinya.

“Apa inii? Ini kameramu?”

Kurasa ia melihat kamera yang tergeletak diatas meja kecil disebelah kanan pintu masuk.

 

“Ye” jawabku singkat di sela memakan jjangmyun

 

“Masih terlihat bagus. Kau sering memakainya? Apakah masih ada beberapa foto yang kau simpan disini?”

“Ya, kebanyakan seorang wanita cantik”

“Kapan terakhir kau memakainya?”

“Terakhir aku bisa melihat”

Hening.

 

Cekrek

Terdengar suara kameraku berbunyi. Setelah selama 5 bulan aku tak pernah menggunakannya. Dan.. aku tak mengerti, kamera itu terbentur cukup keras sama sepertiku saat kejadian itu. Tapi ia jauh lebih beruntung daripada aku. Dan bagaimana dengan baterainya? Aku tak mengerti.

 

“Kameramu masih berfungsi bagus.. mmhh yaaa, bagus” katanya, aku tak tahu apa yang ia potret, “Dan kau sangat tampan untuk menjadi seorang model dari potografer handal sepertiku”

 

Ya, ternyata dia mengambil fotoku. Tapi, aku sedang makan. Hah.. sudahlah

“Hei.. bagaimana kalau kita mengambil selca berdua? Aku akan sangat bangga bila menunjukkan foto itu nanti pada teman-temanku dan mengaku kau adalah pacarku. Ottokhe?”

Jati diri seorang Goo Eunyoung, keluar. Aku suka sifatnya, ia sangat manis saat pertama aku mengenalnya. Walau belum bisa melihatnya.

“Kau mau? Baiklah, kalau bukan karena Jjangmyun ini, kau berhutang padaku” olokku

“Hahaha.. Baiklah, berposelah sebaik mungkin Donghae-ssi, karena kau akan menjadi terkenal setelah ini”

Kurasakan ia duduk disebelahku. Aku tak tahu bagaimana caranya selca tapi aku sendiri tak bisa melihat kearah kamera.

“Tunggu, kau mengambil dengan kameraku?” kataku menyela

“Handphoneku. Waeyo?”

“Ani.. lanjutkan”

Pipinya mengenai pipiku. Hangat . aku bingung harus bagaimana berekspresi dalam keadaan seperti ini. Aku hanya tersenyum dan sesaat kemudian Eunyoung berkata bahwa ia selesai berfoto denganku.

“Aigooo~ kau tampan sekaliii”

“Kau baru sadar? Aaah aku jadi merindukan melihat wajahku ini”

“YAAA!! Aku menyesal. Hsssshh”

 

———————————————————————————————————-

Eunyoung POV

“YAAA!! Aku menyesal. Hssssh”

Aku berdiri dan kembali berkeliling di sekitar ruangan berukuran 2 x 3 meter ini. Banyak foto-foto yang terpajang di dindingnya. Ini asli, ia yang memotretnya. Ia sangat berbakat dalam hal ini, sudah sangat profesional menurutku. Objek yang ia tampilkan begitu menarik, sangat unik.

“Apa kau tinggal disini sendiri?” tanyaku

“Ya, aku hanya sendiri disini. Tapi terkadang seseorang selalu datang kesini menemaniku. Hanya menemani”  jawabnya dengan setengah sunggingan senyum .

“Siapa dia?”

“Adikku”

Kemudian aku kembali melihat-lihat disekeliling ruang ini, ada sebuah laci mencurigakan. Laci itu terlihat sangat klasik. Dan aku penasaran ingin membukanya.

Handphone?

Aku mengambilnya, handphone berbentuk batang berwarna hitam. Mati, aku rasa baterainya habis. Aku mengambil sebuah charger yang tersimpan tak jauh dari tempat aku mengambil handphonennya tadi. Dan aku langsung menchargenya.

“Oppa..”

“Ne?”

“Bagaimana kalau kau mengaktifkan nomormu kembali?”

“Maksudmu?”

“Maksudku.. mmh.. yah, nomor ponselmu. Itu akan lebih memudahkan koneskiku denganmu”

“Mmmh, yah.. tapii.. aaah”

 

Ia agak sedikit ragu akan usulku, ia mengerutkan bibirnya dan menyusut bibirnya dengan tangannya.

 

“Taruh nomormu di speed dial ke-2”

“Yaaaaaaaaa!!!! Kau mauuu? Haaaaah.. ahaa.. “ Oke, aku sangat senang. Ini memang terlihat berlebihan, tapi aku memang benar-benar bahagia.

“Dan jangan lupa, buat ringtone khusus untuk panggilanmu. Itu akan lebih mudah menandakanku menerima panggilan darimu”

 

Yes! Ini pertanda baik Goo Eunyoung!

———————————————–

 

Hyunam Park – Busan , 22 April 2012 04.19 P.M.

Sudah beberapa hari terakhir ini, aku selalu menghabiskan setiap selang waktuku bersama namja itu. Ya, mahluk yang belum satu bulan aku mengenalnya, sudah mampu terlibat dalam kehidupanku. Apapun, dimanapun. Banyak hal yang tak aku yakini, ia lah yang membuat aku yakin. Entahlah, aku sangat mencintainya saat ini. Tapi aku harus bisa menutup mulutku perihal cinta ini.

 

“Aku sama sekali bingung untuk memilihnya, kau.. bagaimana menurutmu?” mataku mendelik bingung.

 

“Aku tak tahu apapun. Pilihan itu ada padamu Eunyoung-a, katakan ya atau tidak jika kau benar-benar yakin pada satu pilihan itu, tapi bila kau ragu, sebaiknya katakan tidak. ” Ujarnya

“Geurae.. Gomawo.. saranmu membantu” balasku tersenyum sambil beranjak dari tempatku. Yaah.. ini terlihat bodoh, karena dia takkan bisa melihat senyumanmu padanya Goo Eunyoung. Tapi tidak! Jadikanlah ini sebuah pengorbanan. Senyum tak banyak berati apa-apa jika kau hanya ingin mendapatkan sebuah rasa darinya, senyum kecil darimu akan jauh lebih berarti jika kau berikan senyum itu tanpa ada satupun unsur pamrih di dalamnya.

Kau tahu? Aku selalu ingin tahu tentang wanita yang tak pernah hilang dari hatimu itu , tapi disisi lain aku berharap bahwa orang yang kau ceritakan itu adalah aku donghae-ssi..

“Kau mau kemana?” tanyanya. Dia bisa merasakan keberanjakanku darinya.

“Mencari jawaban”

“Jawaban yang belum kau tahu pasti?”

“Setidaknya itu adalah jawaban…”

Aku meninggalkan mahluk itu bersama segunduk lukisan dan catnya. Setidaknya karena sebuah jawaban, kalau bukan, akan sangat disayangkan karena aku telah melepas satu waktu bersamanya.

————————————————————————————————————————————–

 

Busan Sakshil University , 06.17 P.M .


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru lobi, mencari sesosok yeoja berparas cantik dan bertubuh indah. Tak ada satupun tanda-tanda kehadirannya. Padahal sekitar 40 menit yang lalu dia bilang kalau dia akan datang secepat mungkin menghampiriku. Tapi dia malah menyuruhku menunggu disini. Haiiisshh.. pasti ia sedang sibuk bergaya dengan ‘Fans-fansnya’ itu.

Sebenarnya aku selalu iri pada Jungah. Dan keirianku ini semakin saja sering memuncak.

Hanya iri,aku tak bisa membencinya. Tak ada alasan membencinya. Dia itu manis. Dan pantas saja banyak orang yang menyukainya. Selain itu ia cantik. Sama seperti kakaknya. Junghwa unni.

Tapi terkadang ia menyebalkan kalau sudah begini..

“Saaaaaampaaaaaaaaaaaaiiiiiiiii………… aku sampaiii!!! Mianhae Eunyoung-a.. hah.. mi.. ah.. an..hae”

Jungah berlari cepat menghampiriku, dengan nafasnya yang masih terengah-engah.

“Kau sudah lama? Hah.. hah…”

Dia bertanya dengan posisi tubuh membungkuk 90 derajat dan tangan menahan ke-2 kakinya.

“Tepat pukul 5 lebih 37 menit aku berdiri disini”

“Hahh.. akuuu.. haahhh.. lelah sekali..”

“Tepatnya aku lebih lelah menunggumu selama 40 menit disini”

“Baiklah, huuuhhh.. kita pergi ke Sonsaengnim. Sekarang.”

“Kau bercanda? 26 menit yang lalu ia pulang”

“Jadi maksudmuu.. kita terlambat?”

“Kita? Maksudmu kau ? aku sudah mengumpulkan keputusanku padanya saat dia akan pulang”

“Kau jadi ikut jugaa? Aissshhh.. kenapa kau tak memberitahuku kalau begituu??? YAAAKK!! Haa.. eottokhae” Jungah kecewa dan bingung

“Yayayaaaa.. sekarang kau mau menyalahkanku? Dengar, mulai sekarang, berhentilah menunjukkan perhatian pada fans-fansmu itu Jungah”

“Mianhaee.. tapi tadi memang aku tak bisa beranjak dari para paparazi itu. Kau tau? Keadaannya sangat sayang untuk dilewatk..”

“Stoppp!!!” aku membungkam mulutnya dengan ponselku “Aku sudah sering mendengar alasan itu tiap kali kau terlambat Jungah”

—————————————————————————————————

 

Perempatan Hansung , 07. 42 P.M


Kami berjalan dari kampus hingga perempatan Hansung karena hari ini tak ada kendaraan yang boleh melintas, ada acara tahunan Busan. Jadi hari ini di full-kan untuk tak ada kendaraan mesin lewat. Hanya diperbolehkan sepeda dan becak *?* .

“Eh, tunggu. Bisa kau pegangi Handphoneku?” aku menyadari bahwa tali sepatuku lepas dan aku harus mengikatnya, aku meminta Jungah memegangi handphoneku sementara aku mencari tempat yang lebih tinggi untuk dapat diinjaki salah satu kakiku yang sepatunya lepas ini.

“Selesai.. “ kataku sedikit meloncat.

“Baiklah, kita berpisah disini Young-ah, mianhae untuk yang tadi”

 

“Ne, annyeong..” ucapku kemudian berbalik dan berjalan ke kanan. Busan Park

 

“Kaauuu?” tiba-tiba ucapan Jungah memaksaku kembali berbalik padanya dan menghentikan langkahku yang baru beberapa meter darinya “Bukankah ke kiri?” Lanjutnya , heran

“Busan Park” jawabku singkat

“Semalam ini? Yaa!! Eunyoung-a. Ini festival tahunan, dan Busan Tower pasti sepi.. aiiish aku tak mengerti jalan pikiranmu, kau takkan bisa menemui seorangpun disana”

“Aniyooo, aku tak akan berwisata malam Junga-ssi, aku tak perlu sebuah keramaian kesana. Damai akan lebih indah.”

“Baiklah, Annyeong”

“Ne.. annyeong”

————————————————————————————————————————-

Author POV

Ia memasuki gerbang mini yang tembus kedalam taman yang tepat dipusatnya ada sebuah tower yang tak terlalu tinggi. Memandangi sekitarnya , mengusap-usap tubuhnya karena angin malam berhembus agak kencang. Benar apa kata Jungah, ia takkan menemui satu orang-pun disini. Donghae? Mungkin iya, juga tidak.

Angin laut busan tak jua berhenti. Sayup-sayup dan menggesekan dedaunan hingga banyak menghasilkan suara, ia juga mendengar suara langkah seseorang dengan hentakkan tongkatnya.

“Tak salah lagi.. ya, pasti dia” batinnya.

Ia menghampiri orang yang ia curigai sebagai donghae itu. Dan benar saja, perkiraannya tak meleset sedikitpun. Ia memegangi tangan bagian atas pria itu.

“Annyeong tampan”

“Kau? Haha..” Donghae yang kaget kemudian tertawa kecil.

“OMOOOO~ Tanganmu ini berotot sekali oppa” Eunyoung meremas-remas tangan yang tadi ia genggam dan menyandarkan kepalanya sambil berjalan.

 

“Jadi, apa rencana kita malam ini?” tanya donghae

“Kau kesepian? Baiklah , malam ini aku resmikan kalau aku telah resmi menjadi teman hidupmu”

“Jadi malam ini perayaan kau menjadi teman hidupku? Haha baiklah ..”

Eunyoung tersenyum padanya, dan kemudian bersandar kembali. Mereka duduk di sekitar tower dan banyak memandang langit walau angin banyak berhembus.

“Oppa..” ucap eunyoung membuka pembicaraan.

“Ne?”

“Kalau kau bisa melihat kembali, siapa yang benar-benar ingin kau lihat meskipun ia bukan menjadi yang pertama kau lihat oppa?”

“Kau Youngie”

 

Eunyoung kaget atas jawaban yang baru saja ia dengar dan bangun dari sandarannya.

“Eh?”

“Wae?”

“Aku? Emmhh… aaahh” eunyoung menjadi sedikit gugup dan tak tahu harus berkata apa “Wae? Kenapa bukan yeoja itu yang ingin kau lihat pertama oppa?”

“Selama aku bisa melihat, aku sudah sering melihatnya. Aku rasa aku masih bisa mencarinya karena aku sangat ingat wajahnya. Kau? Akan sangat asing bagiku bila aku bisa melihat Youngie, kau baru dalam hidupku. Kau yang banyak ingin tahu tentang hidupku, dan telah resmi menjadi seorang teman hidupo bagiku, apakah itu tidak cukup untuk menjadi alasan kalau aku ingin melihat wajahmu?”

“Oppa….haah” Eunyoung menarik nafas sejenak “Bagaimana kalau aku itu ternyata tak secantik yeoja yang kau cintai?”

“Walaupun tak secantik dia, kau akan tetap mempunyai tempat tercantik bagiku Youngie”

 

Eunyoung kembali menyandarkan kepalanya pada Donghae. Menarik nafas kembali.

“Gomawo oppa..”

Ia tersenyum atas semua perkataan Donghae padanya tadi.

“Saranghae Donghae-ssi” katanya dalam hati, ia mulai memejamkan mata, kemudian terbangun kembali.

“Aaaaaiiissshh.. aku lupa!! Handphonekuuuu, aaaannndweee!!! Aku yakin ketinggalan”

———————————————————————————————————————————————

 

Esoknya di Hyunam Park, 08.19 A.M

 

“EUNYOUUUUNG …. “ Teriak Jungah dari kejauhan. Ia berlari menghampiri yeoja yang duduk sedari tadi dan terus melihat jam tangannya. “Ini..” Jungah mengulurkan tangan yang ada hanphone milik Eunyoung ditangannya.

 

“Gomawo..”

“Aishhh, kalau bukan karena handphonemu itu aku tak akan bangun pagi seperti ini” ucap Jungah mengeluh.

“Mwooo? Kau takkan kuliah hari ini maksudmu?”

“Tadinya sih begitu, tapi yaaaah.. aku malas young-aaaaa. Oyah, ada 17 panggilan tak terjawab , dan 14 pesan masuk”

“Oyah? Dari siapa? Mengapa tak kau angkat saja Jungaaaaah?”

“Andwee.. karena kebanyakan elepon itu dari ibumu. Aku tak berani mengangkatnya”

“Jinjja?”

“Ne, 16 diantaranya ibumu”

“Lalu satunya lagi?”

“Pak … mmh entahlah aku lupa”

Eunyoung mengecek handphonenya, membuka aplikasi ‘message’ dan membaca satu-satu pesan yang masuk.

Kebanyakan diantaranya dari eommanya tentang kekhawatirannya seperti, ‘Euyoung , kau dimana?’ atau ‘kapan kau akan pulang? Cepat pulang’ dan ‘eunyoung, kau tidaka apa-apa kan? Balas SMS aku nak’

“11 dari eomma. Dan 3 dari Lee Sonsaengnim yang berisi pesan dari eomma. Hah.. eommaa” Eunyoung mendengus karena melihat seisi inboxnya.

 

“oyah.. siapa namja yang banyak di handphonemu itu Young-a? Banyak sekali kulihat “

“Aaaaahh.. emmhh ini , dia yang sering aku temui akhir-akhir ini , dia tam..”

“Mwo? Aku sering melihatnya sekitar, mmh 5 bulan yang lalu” Sergah Jungah, ia sejenak berfikir “Ya! Aku ingat, dia sering membawa kamera dilehernya dan aku rasa dia itu paparazzi. Hampir setiap aku ada, dia ada.

“Maksudmu dia itu sering mengikutimu untuk memotretmu? Begitu? “ Eunyoung menyipitkan matanya hingga hanya terlihat seperti garis , heran.

 

“Mungkin. Yaaa!!! Masa kau tak pernah melihatnya? Oyah , dia tampan”

Eunyoung terdiam. Wajahnya terlihat lemas. Ia mengencangkan pegangan atas tasnya.

“Aku harus pergi.. mianhae”

Ia berlari dengan kepanikan diwajahnya. Sementara Jungah merasa heran dengan apa yang temannya baru saja lakukan, ia terlihat aneh dalam sekejap setelah Jungah memberitahukanya kalau ia pernah melihat namja itu beberapa bulan lalu.

—————————————————————————————————————————-

Eunyoung POV

Aku tak percaya yang baru saja ku dengar. Dapat kusimpulkan, jadi … Jungah yang selama ini dicintai oleh Donghae oppa? Aku tak percaya, aku tahu auku memang selalu iri pada Jungah, atas kecantikannya, sikapnya yang manis, dan bakatnya menjadi model. Tapi untuk ini? Aku benar-benar tak bias terima. Orang yang selama in I diceritakan dan selalu diagung-agungkan oleh oppa, tak jauh dariku? Lalu apa yang harus aku lakukan saat ini? Mengakui pada Jungah kalau sebenranya pria yang da dalam HPku itu mencintainya? Lalu bagaimana dengan aku?

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGHH”aku berteriak sekeras mungkin di dekat pantai. Beruntunglah karena tidak banyak yang datang kesini.

 

Dasar, lalu untuk apa aku selama ini rela menjadi orang bodoh? Demi cinta seorang yang sama sekali tak pernah membalas tatapanku.

“Baiklah, tak usah temui dia saat ini Goo Eunyoung”

—————————————————————————-

Esok harinya, Busan 5.18 P.M 

Aku tak akan menemuinya sore ini, namun aku tetpa tak bisa menghindari kalau aku harus melewati jalannya. Karena jalan ke rumahku melewati Hyunam Park.

Kulihat ia sedang membereskan lukisannya dengan semampu ia. Yah , memang sangat kasihan. Ia terlihat sangat repot. Apalagi ia harus mengerjakannya dalam keadaan buta. Hahh.. aku kasihan padanya, aku berharap ia mendapat bantuan, karena semenjak aku kenal dengannya , aku sering membantunya membereskan segala peralatan lukisnya. Tapi kuyakin dia pasti bisa melakukannya tanpa aku sekarang. Bukankah sebelum mengenalku dia juga selalu melakukannya sendiri bukan?

Sudah 3 hari aku tek pernah menemuinya, memang hampa. Sangat berbeda. Sama rasanya ketika aku patah hati dulu. Hari ini aku melihatnya berjalan pulang lebih awal. Entah apa mungkin juga karenaku, tapi wajahnya tak terlihat seperti biasanya , juga ia tak pernah pulang seawal ini. Ini masih pukul 5 sore. Ia biasa pulang pukul 8 malam. Goo Eunyoung, kurasa ini karenamu.

————————

Donghae POV

Kemana dia? Apa sesuatu telah terjadi padanya sehingga tak pernah menemuiku lagi?

Sudah 6 hari terakhir ia tek pernah mendatangiku lagi. Padahal ia mempunyai nomor ponselku, aku tahu ia adalah tipe wanita yang agresif, ia mungkin akan sangat jujur sekali padaku. Tapi ini tidak, ia bahkan sama sekali tak menghubungiku. Sepertinya memang ia ada masalah. Atau mungkin kurasa ia tak mau menemuiku lagi karena malu beteman denganku. Dan aku akan kesepian lagi setelah ini.

“Tumben kau akhir-akhir ini selalu ada dirumah mulai sore hari? “ tanya pak Young ketika aku berjalan menuju rumah.

 

“Aaah..ani, aku hanya ingin istirahat lebih lama dirumah” jawabku sambil tersenyum, dan kemudian berjalan kembali perlahan dengan 1 tongkatku.

Aku masuk ke kamar dan menidurkan diriku di tempat tidur. Sudah mau 6 bulan , tapi aku belum pernah mengganti seprainya. Ini sangat menyedihkan, mungkin akan lain ceritanya kalau eomma dan appa tau kalau anaknya , di Busan, sudah tak bersekolah selama lebih dari 5 bulan karena buta.

 

Pikiranku kosong, sama sekali tak bisa memikirkan apapun, seseorang, atau masalah hidupku. Aku menatap kosong keatap-atap yang gelap. Mungkinkah atap-atap itu telah memudar catnya? Banyakah laba-laba yang menyimpan jejaringnya di atap yang sedang kutatap ini?

 

Aku sedikit rendah diri akan ketidakpernah hadiran Eunyoung lagi.

Dan aku berbohong kepada pak Kim kalau aku lelah dan ingin beristirahat.

Aku sebenranya sangat kesepian menunggu seseorang yang tak akan datang kepadaku di Hyunam Park.

 

——————————————————-

 

Eunyoung POV

Eunyoung’s House , 05.19 P.M

 

“Akhir-akhir ini eomma perhatikan kau tak seceria kemarin ? waeyo?”

“Ani..aku hanya sedang tak mood saja eomma” kataku sambil membuka pintu kamar, baru selangkah aku menginjakkan kakiku dari pintu, eomma mengejutkanku dengan sebuah pertanyaan.

 

“Dan akhir-akhir ini eomma lihat kau tak pernah ke Hyunam Park lagi menemui pria itu. Apa karena dia buta?”

 

Sontak langkahku terhenti karena ucapan eomma. Aku belum bisa menjawabnya,

 

“Bukan karena ia buta eomma, maaf aku lelah”

 

Aku langsung masuk dan menutup pintu tanpa menunggu respon eomma.

Mwoyaaa? Eotteohke? Bagaimana eomma tau?

Haissshhh, apa selama ini eomma mengikutiku dari belakang

 

Haaaah.. tidak usah difikirkan Youngie. Kau lebih baik tidur dan lupakan semua dari sekarang.

Dan pria itu, aku khawatir akan keadaannya.

————————————————————————————–

 

“Youngie, ini sudah malam, kau tak akan makan?”

 

Suara lembut itu terdengar jelas oleh telingaku, namun aku belmu bisa memastikan apa itu eomma atau bukan. Karena mataku masih tertutup. Kepalaku pusing, dan aku mulai mencoba bangun.

 

“Aaa.. ne, nanti aku menyusul eomma”

 

“Baiklah, kutunggu”

Beberapa menit kemudian setelah kesadaranku terkumpul, aku berjalan menuju ruang makan dan duduk bersebrangan dengan eomma. Kemudian menuangkan makanan ke piring, dan melahapnya.

“Kau belum menjawab pertanyaan eomma tadi yeoungie” Sela eomma ditengah makan malam kami.

 

Dengan mulut penuh, aku menjawab pertanyaan eomma “Aku sudah menjawabnya. Dan kurasa itu cukup”

“Apa kau menyukai namja itu?”

 

Aku diam. Kemudian menatap eomma.

 

“Bisakah eomma tak membahasnya sekarang?”

“Kau hanya tinggal menjawab ‘YA’ atau ‘TIDAK’ “

“Ya”Jawabku malas

 

“Lalu mengapa akhir-akhir ini kau tak pernah menemuinya lagi?”

“Eomma, mengapa eomma bertanya lagii?”

“Kalau kau menyukainya, apa alasanmu tak pernah menemuinya lagi selama 10 hari ini?”

 

 

“Eommaaa…”

 

 

“Kau tau? Cinta itu pertaruhan Youngie. Sama seperti eomma yang mencoba untuk bertaruh agar eomma tidak menggantikan cinta appa meskipun ia tak ada disini”

 

Aku diam. Banyak pertanyaan di otakku yang aku tak tahu jawabannya. Eomma, kata-katamu membuat aku tak bernafsu makan kembali, dan aku ingin menciumnya.

 

“Aku mengantuk. Aku tidur” ucapku singkat setelah menenggak air putih, kemudian masuk dan mengunci pintu kamar.

Eunyoung, ini sudah 10 hari kau tak pernah menemuinya. Membiarkan dia membusuk atas kebosanannya, mengembalikan dia ke keadaan 5 bulan lalu dimana ia tak mempunyai teman hidup. Dimana hatimu? Kau baru saja resmi menjadi teman hidupnya 10 hari yang lalu. Besok , kau harus temui dia lagi.

 

Cinta adalah pertaruhan. Tak cukup sekali bertaruh. Kau selalu sabar dan menginginkan ia melihatmu bukanlah bertaruh. Kesabaranmu ingin berbalas tatapannya terhadapmu bukanlah sebuah pertaruhan. Seberapa besarpun cintanya pada seorang yeoja juga tak harus kau gubris youngie. Itu urusan dia, dia yang memberikan cinta miliknya,bukan kau.

 

——————————————————————————————————-

 

Esok harinya , 04.10 P.M

Tadi pagi Jungah mengabariku kalau aku harus tetap berada di kampus sampai sore untuk menunggu pembicaraan dosen. Padahal hari ini jelas-jelas kuliah diliburkan. Hanya aku dan beberapa siswa yang tertunjuk berada disini.

Haaaaahh… hal ini membuatku mengulur waktu untuk menemui pria buta tampan itu. Aku sudah dari pagi berada disini, dan sonsaengnim barusaja datang.

06.22 P.M

Kalau aku tahu sonsaengnim akan datang sore, aku pasti sudah mendatangi Donghae oppa sejak tadi pagi. Jam segini pastilah ia sudah pulang, apalagi setelah tak pernah bertemu denganku. Aku pulang saja laaaah..

 

Aku pulang melewati jalan hyunam. Disini masih ramai ternyata. Aku bermaksud berbelok , memastikan apakah pria itu masih ada disana atau tidak.

 

Aku kaget  saat tempatnya sangat ramai.

Dia, dikerubungi oleh bebrapa orang pria yang suka berjaga di pinggiran pantai dan mengambil beberapa hasil nelayan.

Aku tak tahu apa hubungan pria-pria itu dengannya. tapi mengapa pria-pria itu terlihat berlaku kasar pada Donghae oppa?

Aku bingung pada diriku sendiri apakah harus menghampirinya, tapi akupun tak tahu apa-apa.

Aku hanya memperhatikan dari jarak sekitar 7 meter darinya.

 

PRAAAANGGG

 

Suara itu dihasilkan oleh bantingan seluruh alat melukis Donghae oppa oleh pria pria tersebut.

Apa benar yang aku lihat?

Mereka semua membanting lukisan oppa berhamburan dimana-mana. Selain aku banyak orang yang melihat kejadian ini tanpa mampu berbuat banyak.

Termasuk aku. Pria-pria itu berbadan besar dan bertato. Aku terlalu lemah. Apalagi takkan ada dukungan terhadapku dari orang-orang yang ada disini bila aku melawan mereka.

Mataku menitikan air mata. Saat ku melihat ia yang tak berdaya mencoba melawan perlakuan keji semua namja-namja itu. Ia hanya bisa meraba-raba udara, dan ketika ia mampu menyentuh semua pria-pria itu, tubuhnya dihempaskan hingga terjatuh. Ia kemudian bangun setengah berdiri, masih dengan ketidakberdayaannya, ia terus mencoba menghentikan mereka. Aku menangis. Ya, aku tak kuat melihatnya mencoba agar tak terlihat lemah dihadapan ancaman .

Namja-namja itu terus saja merobek-robek semua lukisan oppa. Mungkin ia mampu merasakan dan mendengar lukisannya dengan keji dihancurkan begitu saja. Ia terus melakukan perlawanan. Dan dia dijatuhkan kembali, tapi tidak. Kali ini ia jatuh oleh sebuah tamparan keras dari salah satu pria disana.

Aku semakin tak tahan. Aku memang tak mampu melawan mereka. Tapi aku juga tak bisa membiarkannya , yang lemah, bersikap kuat demi lukisan-lukisannya itu.

Aku berlari menuju tempatnya teraniaya sekarang. Ia ditimpuk oleh lukisannya sendiri. aku menutupi kepalanya dengan pelukanku, dan aku menarik tangannya kemudian membawanya ke tampat yang jauh dari mereka.

“Ayo ikut aku “ ucapku, membawanya .

 

Sementara pria itu masih saja dengan keasyikannya menghancurkan semua harta terindah Donghae oppa.

Kami duduk di atas tembok yang tidak tinggi, aku masih terus menangisinya. Terisak-isak melihat wajahnya terdapat beberapa goresan panjang maupun pendek.

“PABOYAAAA!!! BABO CHOROM !!!! WAEEEE ??? WAEEEEE??” teriaku padanya , masih dengan tangisan .

Ia diam, dan menangis pula.

“WAEEEE???? Apa kau mencoba tegar? Kau ingin membuktikan kau itu kuat??!” tangsiku semakin menjadi.

“Akuu.. haa.. aku hanya ingin menyelamatkan..”

“Apa? Lukisan-lukisanmu itu? Kau pikir dengan keadaan seperti ini kau bisa melindungi semua lukisanmu ituuu?? Apa kau tahu kalau kau justru terlihat sangat lemah diantara mereka Donghaessi ??”

Ia masih menagis. Air matanya jatuh mengenai luka-luka diwajahnya.

“Kalau kau ingin terlihat kuat, seharusnya kau menghindar dari mereka bodoooh !!! Apa kau tak tahu betapa khawatirnya aku selama ini ??”

“Mianhae.. jeongmal..Aku, aku hanya tak tahu harus bagaimana dengan lukisan-lukisanku itu. Mereka terlalu berarti untukku”

 

“PABOO!!! Kau kira semua orang juga akan lebih membutuhkan lukisanmu daripada yang menciptakannya hah? Aku bahkan sangat membutuhkanmu walau kau tak bisa melukis sekalipun…

“Mianhae.. mianhae.. karenaku, kau …” suaranya bergetar disertai tangisan lirihnya. Aku langsung memeluknya.

Aku masih menangis dipelukannya dan entah kenapa mulutku bisa berkata “Aku mencintaimu, cukup, hanya ini yang kubutuhkan, mencintaimu”

Hening. Aku , ia, sama-sama diam.

—————————————————————————-

 

“Aaaaw.. “

“Ahhh.. mianhae, apa itu sakit? Mungkin aku harus lebih pelan lagi” tanganku masih saja mengelap darah diwajahnya dengan air hangat, kemudian mengobatinya dengan obat merah yang aku beli tadi. Aku tahu, itu perih.

Beberapa menit kemudian, aku selesai mengusap wajahnya. Sekarang wajahnya sudah bersih. Seketika aku diam.

 

Aku menatapnya tepat di bola matanya. Mata yang membuatku menjadi orang terbodoh karena mau menatapnya. Mata yang tak akan memberi balasan atas tatapanku. Mata yang bahkan tidak tahu kapan aku telah menatapnya. Ya, mata yang mebuatku melihat ada cinta didalamnya.

Melihatnya, walaupun aku mencintainya, aku merasa malu sekarang mengingat momen yang terjadi tadi.

Aku harap ia takkan menjadi canggung padaku, begitupun sebaliknya.

 

———————————————————————————-

 

2 bulan berlalu, hubunganku dan Donghae oppa berjalan semaki baik. Tidak, kami tidak menjalin hubungan apapun. Aku tak peduli dengan cintanya terhadap Jungah, wanita yang aku pikir adalah yeoja yang dicintainya. Kalau aku beritahukanpun, belum tentu ia akan langsung melamarnya.

“Akhir akhir ini Kim Sonsaengnim sering menghubungiku, ia mengajakku kembali berkuliah”

“Jinjja? Tunggu, Kim sonsaengnim itu dosenmu? Dan ia mengajakmu untuk meneruskan kuliahmu lagi?”

“Ne, akupun tak mengerti, tapi ia sangat bersikukuh mengajakku”

Mendengarnya berkata seperti itu, aku berharap itu nyata.

 

———————————————————————————————

Hyunam Park , Juli , 02.44 P.M 

 

Donghae POV

Aku tak sabar ingin bertemu dengannya. Lusa, ya, besok lusa hidupku akan berubah . aku belum ingin memberitahukan pada Eunyoung, biarkan ini menjadi sebuah kejutan. Setelah pengakuannya kalau ia menyimpan rasa cinta terhadapku waktu itu, aku lebih bersimpati padanya. Entahlah, ketertarikanku padanya semakin tinggi.

 

Esok pagi aku akan melakukan perjalanan ke Seoul bersama Kim Sonsaengnim. Kurasa aku akan lama berada disana, maka dari itu, aku ingin sekali bertemu dan menghabiskan waktu bersamanya hari ini.

Aku ingat kalau nomornya ada di speed dial ke-2.

Ku tekan angka 2.

Tuuut… tuuuut…..

Tak ada i-ring sama sekali, hanya bunyi ‘tut’ aku dengar, namun bukan itu yang ingin kudengar. Suaranya yang ingin kudengar.

 

Tuuut.. tuuut.. tuuutt…

Masih tak ada jawaban. Aku mencoba menghubunginya lagi .

Tuuut..tuuutt.. tuuut…

Masih bunyi itu yang kudengar selama beberapa detik. Namun tetap sama, bukan suaranya yang kudengar.

Ku coba lagi hingga 17 kali. Namun masih sama juga.

Akhirnya kutinggalkan pesan melalui operator.

“Semoga kau datang Youngie”

—————————————————————————————-

At the same time, Busan Tower

Eunyoung berjalan di pinggiran busan park. Dengan kesadarannya ia berjalan, tetapi tiba-tiba sebuah sedan mewah menghentikan kecepatannya tepat didepan langkah eunyoung akan melintas. Kalau saja ia berjalan beberapa senti lagi, maka tertabraklah tubuhnya.

“YAAAAA !!! TURUN KAU BODOOOHH !!!! HEY!! CEPAT TURUUUN!!! “ Eunyoung berteriak sambil menendang-nendang ban mobil yang ada di depannya itu, banyak orang disana memerhatikannya. Tapi ia sama sekali tak peduli .

Seorang pria berkacamata hitam keluar dari mobil, ia tersenyum pada gadis yang marah padanya itu. Kemudian membungkuk dan mengucapkan salam.

“Annyeong manis..” ucapnya sambil tersenyum ganas.

Eunyoung sama sekali tak berkutik dengan senyumannya tadi.

“Kaauuuuuu?” tanyanya terheran-heran melihat namja didepannya itu.

“Masih ingat aku?”

“Haaa.. kau? Aku lupa akan dirimu , hanya ulah bodohmu itu yang tak bisa aku lupakan” jawab Eunyoung sinis

“Kalau begitu ikut aku”

Namja itu menarik Eunyoung dan membawanya masuk kedalam mobil. Kemudian melajukan mobilnya cepat entah kemana.

Saat mobil itu sampai ditujuan, Eunyoung keluar dari mobil dengan pintu yang sengaja Namja itu bukakan untuknya. Kemudian ia menarik tangannya lagi dan membawa ia lari kearah pantai.

Sementara di dalam mobil handphone Eunyoung terus bergetar dan mengeluarkan suara.

 

——————————————————————————-

“Youngie-ah, aku akan baik lusa. Bisakah kau datang malam ini ke Pantai Hwanhee? Aku akan menunggumu dari saat ini hingga kau datang. Jadi datanglah. Aku ingin menghabiskan waktu spesial hari ini , hanya denganmu sebelum kau mendapat kabar bahagia dariku nanti. Eunyoung-ah, terimakasih sebelumnya, saranghae”

——————————————————————————

10.18 P.M 

Pria itu masih berdiri sedari tadi, dari pukul 3 sore. Sesekali ia duduk untuk merefleksikan kakinya. Sesekali ia juga  bernyanyi untuk menghilangkan rasa bosan. Tetapi yang ditunggu tidaklah datang.

Sementara itu disisi lain Eunyoung menyadari kalau ia meninggalkan handphonenya di mobil namja itu.

Ia berlari kemobil dan melihat ponselnya yang berisi banyak sekali telepon dari donghae.

“Youngie-ah, aku akan baik lusa. Bisakah kau datang malam ini ke Pantai Hwanhee? Aku akan menunggumu dari saat ini hingga kau datang. Jadi datanglah. Aku ingin menghabiskan waktu spesial hari ini , hanya denganmu sebelum kau mendapat kabar bahagia dariku nanti. Eunyoung-ah, terimakasih sebelumnya, saranghae”

Matanya membulat saat mendengar pesan dari Donghae. Ia kemudian berlari mencari kendaraan menuju tempat donghae berada tanpa menghiraukan Pria yang telah mengajaknya ketempatnya sekarang.

 

“Nado.. saranghae Donghae-ssi”

 

———————————————————–

I’m risking my life, I’m risking my life
In order to love you I’m risking even my life
Do you know my heart, the heart that keeps wanting to see you?
In order to love, I’m risking my life

-TBC-

 

 

 

 

Ailee – Heaven Lyrics [HAN / ROM / ENG]

ni-ga i-nneun gose nado hamkke hal-ke..
ni-ga ganeun gose nado hamkke kal-ke..

neol wiihaeseo mae-il utko neol wiihaeseo gidoha-go..
ni saengga-ge jamdeul-ko neol bureumyeo nuneul tteo..
nae yeopeseo jikyeoju-go nae yeopeseo kamssajuneun..
neon naye cheonkuginkeol..

You’re my only one way..
ojing neoreul wonhae nae-ga ni gyeote isseume kamsahae..
You’re the only one babe..
himdeun sesang so-ge sarangeural-ke haejun neo hanaro naneun haengbo-khae..
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
uri hamkkeramyeon we will never cry never never cry..

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
yeongwonhi du-riseo never gonna be alone..

ni pumeseo sumeul shwiigo ni pumeseo immajchu-go..
ni moksoril deu-reumyeon kkum kkuneun geot man gata..
ni nuneseo al su isseo ni sarangeural su isseo..
neon naye cheonkuginkeol..

You’re my only one way..
ojing neoreul wonhae nae-ga ni gyeote isseume kamsahae..
You’re the only one babe..
himdeun sesang so-ge sarangeural-ke haejun neo hanaro naneun haengbo-khae..

Heaven namani saram keurae nareul jikyeojul saram..
eotteon- seulpeumdo eotteon- apeumdo neowah hamkke handamyeon..
eoneu nu-gudo nan bureob-ji anha.. tteollineun du soneul jabajwo
nae-ga saneun iyu neonikka..

You’re my only one way..
ojing neoreul wonhae nae-ga ni gyeote isseume kamsahae..
You’re the only one babe..
himdeun sesang so-ge sarangeural-ke haejun neo hanaro naneun haengbo-khae..

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
uri hamkkeramyeon we will never cry never never cry..
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
yeongwonhi du-riseo never gonna be alone..
oh, so alone.

//

니가 있는 곳에 나도 함께 할게..
니가 가는 곳에 나도 함께 갈게..

널 위해서 매일 웃고 널 위해서 기도하고..
니 생각에 잠들고 널 부르며 눈을 떠..
내 옆에서 지켜주고 내 옆에서 감싸주는..
넌 나의 천국인걸..

You’re my only one way..
오직 너를 원해 내가 니 곁에 있음에 감사해..
You’re the only one babe..
힘든 세상 속에 사랑을 알게 해준 너 하나로 나는 행복해..
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
우리 함께라면 we will never cry never never cry..

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
영원히 둘이서 never gonna be alone..

니 품에서 숨을 쉬고 니 품에서 입 맞추고..
니 목소릴 들으면 꿈 꾸는 것 만 같아..
니 눈에서 알 수 있어 니 사랑을 알 수 있어..
넌 나의 천국인걸..

You’re my only one way..
오직 너를 원해 내가 니 곁에 있음에 감사해..
You’re the only one babe..
힘든 세상 속에 사랑을 알게 해준 너 하나로 나는 행복해..

Heaven 나만의 사람 그래 나를 지켜줄 사람..
어떤 슬픔도 어떤 아픔도 너와 함께 한다면..
어느 누구도 난 부럽지 않아.. 떨리는 두 손을 잡아줘
내가 사는 이유 너니까..

You’re my only one way..
오직 너를 원해 내가 니 곁에 있음에 감사해..
You’re the only one babe..
힘든 세상 속에 사랑을 알게 해준 너 하나로 나는 행복해..

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
우리 함께라면 we will never cry never never cry..
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
영원히 둘이서 never gonna be alone..
oh, so alone.

 

Where you are, I will be there too
Where you go, I will go there too

I smile for you every day, I pray for you
With thoughts of you, I fall asleep – I open my eyes as I call for you
You protect me by my side and you embrace me
You are my heaven

* You’re my only one way
Only for you – I am thankful that I am next to you
You’re the only one babe
You taught me love in this harsh world – I am happy with you alone

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
If we’re together we will never cry never never cry
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
Forever, together – never gonna be alone

I breathe in your arms, we kiss in your arms
When I hear your voice, it feels like I’m dreaming
I can tell from your eyes, I can tell about your love
You are my heaven

* repeat

Heaven – my only person, yes the person who will protect me
Any sadness, any pain – if only I’m with you
I’m not jealous of anyone else – hold my two trembling hands
Because the reason I live is you

* repeat

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
If we’re together we will never cry never never cry
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven x2
Forever, together – never gonna be alone
Oh, so alone

SNSD The Boys Japanese Version

kamiokakiageruaijeukaraseubetegahajimaruno
gingamotobikoetekimitonararekisiokaerareso-

Bring the boys out (yeah you know)
B, Bring the boys out (we bring the boys out, we bring the boys out yeah)
B, Bring the boys out

daremogaso-ne kitthourayamuhodoni catch your dream (get up)
hanpanapeuraidoketthobasitemotthomaeni (that’s funny) catch your wish

kimiwatadahitorikachiaru mystery
yumemiteiinjyanai?
semarukimochiniuchinukukodo-ni
mioyudanete boy…my boy
(B, Bring the boys out)

*Girls’ Generation make you feel the heat!
kyu-nintoironochyu-dokusei (B, Bring the boys out)
Hey boy ne- DAN DANhajikeso- in my mind
honkiodaso-yo you know the girl? (B, Bring the boys out)

hansinhangi? tonikakucheuitekite
donnayumedatthekanauwa dreaming again
kokokite (yes fly high!) maemite (you fly high!)
seubete so- kiminosekai

kimiwatadahitori chijyo-no fantasy
jidaikaeso-na smile
sibiresasetetorikonisasete
so-dainaseuke-rude boy go ahead!
(B, Bring the boys out)

*repeat

Girls bring the boys out!
I wanna dance right now negaikomete lucky star
Set up! makerarenairaundo No.1igaiwakyo-minai check this out!
issotanosindamonogachiyowakaranaiwayattheminakuchya
ijakessyu-sakimidareyo
Girls’ Generation we won’t stop! (B, Bring the boys out)

kimiwatadahitoriarattana history
cheukurebaiinjyanai?
semarukimochiniuchinukukodo-ni
mioyudanete boy…my heart

kamiokakiageruaijeukaraseubetegahajimaruno(just bring the boys out)
gingamotobikoetekimitonararekisiokaerareso-
(Bring the boys out)

Cuz the girls bring the boys out
Girls bring the boys out
Girls bring the boys out
Girls bring the boys out

*repeat

Davichi – I’ll Think Of You Lyrics [HAN/ ROM / ENG]

DAVICHI – I’ll Think Of You Lyrics  [HAN / ROM / ENG ]
01 생각날거야
02 생각날거야 (Inst.)

insa mothaesseo
tto angigo shipeoseo
tto ul-ko shipeojyeoseo keurae
kolmok dwiiro eolleun sumeosseo

nun-mu-reun sachiya
i geuri-umeun jwehya
nae meoriro gaseume marhae
deoneun neoreul chajji malla-go

u-uu-u tto saenggagi na-get-ji
eotteohke keu chohdeon neoreul modu ji-ul-kka
i bami china-go tashi achimi omyeon
keu ttae tto nan neowah majuchil-keoya

sarang mothaesseo
jin-cha sarangeun yeo-gi
nae gaseumi meorie marhae
chigeumbu-teo sarang-handa-go

u-uu-u tto saenggagi na-get-ji
eotteohke keu chohdeon neoreul modu ji-ul-kka
i bami china-go tashi achimi omyeon
keu ttae tto nan neowah majuchil-keoya

bisbangul tteo-reojineun sori sori sori
gaseumeul pa-godeuneun sori sori sori
nunkareul ta-go heu-lleo naerineun neoneun neo
ni-ga heu-lleo naerinda

u-uu-u saenggagi nal-keoya
nan mothae nae sarang neoreul moshijeo moshijeo
i da-eum sesange tashi taeyeonandedo
keu ttae tto nan neowah sarang-hal-keoya
u-uu-u

 

인사 못했어
또 안기고 싶어서
또 울고 싶어져서 그래
골목 뒤로 얼른 숨었어

눈물은 사치야
이 그리움은 죄야
내 머리로 가슴에 말해
더는 너를 찾지 말라고

우우우우 또 생각이 나겠지
어떻게 그 좋던 너를 모두 지울까
이 밤이 지나고 다시 아침이 오면
그 때 또 난 너와 마주칠거야

사랑 못했어
진짜 사랑은 여기
내 가슴이 머리에 말해
지금부터 사랑한다고

우우우우 또 생각이 나겠지
어떻게 그 좋던 너를 모두 지울까
이 밤이 지나고 다시 아침이 오면
그 때 또 난 너와 마주칠거야

빗방울 떨어지는 소리 소리 소리
가슴을 파고드는 소리 소리 소리
눈가를 타고 흘러 내리는 너는 너
니가 흘러 내린다

우우우우 생각이 날거야
난 못해 내 사랑 너를 못잊어 못잊어
이 다음 세상에 다시 태어난데도
그 때 또 난 너와 사랑할거야
우우우우

 

I couldn’t say hi to you
Because I wanted to be held again
Because I wanted to cry again
I hurried to the back of the alley and hid 

Tears are extravagant
This longing for you is a sin
My head tells my heart
Not to look for you anymore

* But I’ll think about it again
How could I erase you, who I liked so much?
When this night passes and morning comes again
Again, I will face you then

I couldn’t love
The real love is here
My heart tells my head
That I’m loving you from now on

* repeat

The sounds of the raindrops falling
The sounds that dig deep in my heart
You flow from my tears
You flow down

I will think about you
I can’t, my love, I can’t forget you, forget you
Even if I’m born in the next world
I will love you then as well

Like An Idiot Part 2

Kututup mata, dan menarik nafas panjang. Udara malam di laut memang sungguh menakjubkan. Aku akan mati dengan kesejukkan laut Busan. Kurentangkan tanganku dan bersiap terjun bebas dari atas tembok sini. Yang ku lakukan hanyalah cukup berpura-pura tak bisa berenang, dan memastikan tak ada orang yang melihatku.

Hembusan angin malam . Yah, ini waktunya.

“sewori hullo naiga dulgo
gudae gomun moriwie
huinnuni puryojindwi”

Suara itu, terdengar sangat lembut di gendang telingaku. Memecah kebuntuan otakku. Ya, lelaki itu. Dengan nyanyiannya telah berhasil menggagalkan semua yang akan kulakukan. Aku menghentikan langkahku untuk terjun ke laut dibawahku.

———

Hyunam  Park , Busan – 5 April 2012

Donghaes POV

Busan, tak pernah ada yang membayangkan bahwa tempat ini menyajikan begitu banyak keindahan dibalik banyaknya truk yang hilir mudik dengan membawa berton-ton ikan. Walaupun tidak sebesar Seoul, dan taka banyak toko-toko fashion seperti yang ada di Daegu namun Busan adalah tempat dimana kau bisa menemukan nuansa malam yang indah. Lihatlah, disini kau bisa temukan surga dunia. Beruntunglah aku, yang tinggal disini.

Dulu begitu, tapi tidak setelah kejadian 6 bulan yang lalu menimpaku. Dimana sebuah kecelakaan menghempaskan diriku. Dan kenyataan lain yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadi. Setelah sebulan aku bangun dari ‘Koma’ku aku harus terima bahwa mataku tak dapat bekerja lagi. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan kala dokter membuka sebuah penutup yang tertempel dimataku. Ya, aku buta.

“ Aku tak tahu apakah ini buta permanen atau bukan. Kalo bukan, hanya waktu yang akan menentukan”

Aku diam beberapa menit. Saat itu, tanpa kesadaranku air mataku jatuh.

“Tuan Lee? Gwaenchana?”

Tangisku semakin menjadi-jadi saat itu. Aku hanya merasakan air yang semakin deras jatuh dari matku tanpa tahu lagi bagaimana rupanya.

“Dokter, menurutmu apa aku akan bertahan?” tanyaku gemetar

“Tergantung semangatmu tuan Lee. Percayalah pada takdir”

Sebelumya, aku tak terima akan hal ini.

Tapi ini, adalah takdirku.

Dan sudah 5 bulan, aku mampu melaluinya dengan cukup baik. Sebenarnya aku hanya mencoba menikmatinya. Tapi ini jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.

———–

“gomapseumnida..” ucapku sambil membungkukan badan 45 derajat kepada seorang noona yang telah membeli lukisan dariku.

Aku berharap noona itu membeli lukisan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana rupanya bukan karena melihat keadaan fisikku yang buta. Aku ingin ia benar-benar melihat nilai estetis yang ada dalam lukisanku.

“annyeong? Berapa harga lukisan yang ini?” selang beberapa menit setelah noona tadi, kini seorang yeoja datang menghampiri stanku.

“Berapapun, semaumu” jawabku

“Mwo? Jinjjaro? Bagaimana kalau aku hargai 100.000 won? Kau mau?” sentaknya kaget

“Aa…andwae!! itu terlalu mahal nona. Aku harap kau membelinya bukan karena kasihan padaku, tapi lihatlah nilai estetisnya nona kurasa itu terlalu mahal untuk lukisan seperti itu”

“Aniiiiii~, maksudku ini bagus ! aku sama sekali tak kasihan padamu. Apa kau tak sadar kalau lukisanmu itu bagus?”

“Molla, aku bahkan tak bisa melihat hasilku sendiri nona”

“maksudmu kau buta?”

“kau tak tahu ?” aku tak paham dengan nona ini, apakah ia benar-benar tak sadar?

“molla. Kau bahkan tak terlihat buta. Matamu… bahkan terlalu indah tuan, jangan salahkan aku kalau mata indahmu itu membuatku tak tahu akan kekuranganmu tuan”

“haha… gomapseumnida “ jawabku tersenyum lebar.

Polos sekali.

——–

Eunyoung POV

“Mwo? Jinjjaro? Bagaimana kalau aku hargai 100.000 won? Kau mau?” kataku kaget. Lukisan sebagus itu , aku bahkan tak mengerti mengapa dia tak memberi patokan harga.

“Aa…andwae!! itu terlalu mahal nona. Aku harap kau membelinya bukan karena kasihan padaku, tapi lihatlah nilai estetisnya nona kurasa itu terlalu mahal untuk lukisan seperti itu”

“Aniiiiii~, maksudku ini bagus ! aku sama sekali tak kasihan padamu. Apa kau tak sadar kalau lkukkisanmu itu bagus?”

“Molla, aku bahkan tak bisa melihat hasilku sendiri nona”

“maksudmu kau buta?” tanyaku heran

“kau tak tahu ?”

Aku semakin tak mengerti maksudnya. Tak mungkin  pelukis setampan ini , dengan matanya yang indah … mmmhh aaaahhh  aku tak bisa berkata-kata lagi saat melihatnya.

“molla. Kau bahkan tak terlihat buta. Matamu… bahkan terlalu indah tuan, jangan salahkan aku kalau mata indahmu itu membuatku tak tahu akan kekuranganmu”

“haha… gomapseumnida “ jawabnya dengan senyum lebar yang tersungging di bibirnya

Ia menatapku, atau nyatanya itu hanyalah tatapan kosong. Kulirik jam tanganku , sudah pukul 5 sore.

Eomma akan panik kalau aku tak pulang sekarang, terlebih aku tak memberinya kabar karena mematikan ponselku sengaja. Sebenarnya tak ada hal yang akan kulakukan setelah ini, tapi diam disini bersamanya hanya akan membuatku terlihat semakin bodoh karena dia tak akan menyadari segala apa yang kulakukan.

“Kau…bisakah simpan lukisan itu untukku?”

“Agasshi, kau tahu aku tak bisa melihat, jadi bawalah itu untukmu”

“Mwoyaaa??? Jinjja? Ini gila”

“kau bisa membayarnya saat kau kembali kesini nona. Aku tak tahu lukisan mana yang kau inginkan. Aku takut orang lain akan mengambilnya lebih dulu, atau hilang tanpa aku tahu”

Namja ini…

Ini benar-benar gila. Ia bukan hanya membuatku hampir gila karena ketidakpercayaanku terhadap kebutaannya.

——–

Aku sampai dirumah dan menarik nafas berat. Kubuka pintu perlahan, dan sudah kulihat eomma yang duduk lelah di sofa ruang tamu. Aku berjalan jinjit, membuka kenop pintu kamar secara perlahan.

“Eunyoung?”

Suara itu, sangat tak asing bagiku. Ia berdiri dan membalikkan badannya sehingga wajahnya saling berhadapan denganku.

“eomma? Aaaaahh…” aku menggigit setengah dari bibir bawahku. Aku tak tahu apa yang ingin ku katakan pada eommaku yang sedang menatapku serius sekarang. Sial, lidahku benar-benar terkunci.

“Eunyoung-a? Mengapa kau selalu mematikan ponselmu?” tanyanya panik, dan itulah yang setiap hari ia perlihatkan padaku.

“mianhae eomma, bukan aku ingin menghindari panggilan darimu, tapi kau tahu sendiri keadaanku saat ini, jadi berhentilah khawatirkanku”

“wae? Kau malu atas perlakuanku?”

“cukup eomma! Aku tahu itu, tapi tidakkah itu berlebihan? Dengan keadaanku sekarang, kau menyuruhku pulang lebih awal. Dan itu membuat waktu luangku tersisa lebih banyak. “ jawabku dengan nada sedikit keras

“Eunyoung-a, hanya kau yang kupunya sekarang. Bukankah ini wajar?”

“aku tahu, tapi sekali lagi eomma, aku bisa mengatur hidupku. Tanpa kekhawatiranmu, aku akan baik-baik saja”

Aku masuk kekamar, mengunci pintu  kemudian merebahkan tubuhku ketempat tidur. Kunyalakan ponselku, 3 telepon tak terjawab. Dengan tak membukanyapun aku sudah tahu kalau itu eomma.  Melihat ponsel ini membuatku teringat lagi kepada namja babo itu. Segala tentangnya, memenuhi isi memori ponsel ini. Phonebook, galeri, bahkan sampai game. Ingin ku format ponselku ini sampai semua memori tentangnya benar-benar habis dari ponselku. Tapi keberadaanya bukan hanya di satu tempat. . Ini sulit bagiku untuk menghapus segala tentangnya dari hidupku. Tapi begitu banyak tentangnya memenuhi apa yang ku punya. Sial!

Selintas bayangan namja itu hadir. Entahlah, otakku mulai bekerja mengingat-ingat tentangnya. Sudah sekitar 4 bulan aku melihatnya bekerja sebagai pelukis jalanan di Busan Park. Akhir-akhir ini ia mulai mendapat sedikit ketertarikanku. Tapi kurasa sebelumnya ia juga pernah kulihat. Kucoba mengaduk-adukkan kepalaku agar aku bisa mengingatnya. Ya, nihil.

 

Busan Sakshil University – 7 April 2012 07.18 P.M

Apa kau akan pergi ketempat itu lagi dan bertindak gila seperti yang kau lakukan 3 bulan lalu Goo Eunyoung?”

“Ya, tapi untuk kali ini tidak akan seperti itu lagi”

“Pembohong. Apa aku bisa percaya ? apa ibumu mau membiarkanmu kabur lagi ?”

“Cukup Jung-ah! Aku hanya ingin mengisi waktuku di tempat itu! Setidaknya sampai sosok menjijikan itu hilang”

“Menjijikan? Sama sepertimu. Hah~ “

“YAAA!!! Jungahh-ssi!!!!!”

——

Hyunam Park, 11.12 P.M

“BRENGSEK! Mengapa kau lupa memakaikan syal ato penghangat Eunyoung-a!!! Ini adalah penghujung musim gugur. Kembali lagi kerumah? Ayolaah itu lebih buruk!” gumamku dalam hati

Ku menggosokan kedua telapak tanganku satu sama lain. Kusentuhkan pada leher. Setelah itu memeluk tubuhku sendiri. Inilah salah satu efek bila tinggal dekat dengan laut. Malam akan terasa sangaaat dingin, terlebih menjelang musim dingin.

Tak banyak yang bisa kulakukan disini.

Diam.

Tempat ini, semakin mendekatkanku pada dunia laut Busan. Sepi. Aku berdiri, berjalan menuju sebuah tembok tinggi yang membatasi antara laut dan daratan ini.

Ku fikirkan semua kejadian 3 bulan lalu. Tidak, tak harus kuingat. Ingat eomma? Kurasa ia akan baik – baik saja tanpaku. Jung-Ah? Bahkan ia tak peduli lagi tentangku.

Kurentangkan tanganku seperti apa yang dilakukan Kristen Stewart di film Titanic . Disini jauh lebih membuatku nyaman ketimbang berdiam diri dikamar. Miris? Memang. Sama seperti yang aku rasakan 3 bulan lalu. Tapi ini terasa sedikit membaik. Pikiranku jauh lebih tenang disini.

 

“harue hanbeonman neol

saenggakhae deo isangeun

andwae akkyeodulgeoya

Suara itu lagi, nyanyian yang sama. Ya, suara lelaki yang pernah menghentikan langkahku. Dan dengan hal yang sama dia datang lagi. Aiish, apa dia itu malaikat pengiringku? Bagaimana mungkin untuk ke-2 kalinya ia ada disaat aku ada dengan keadaan yang sama?

Kulirik perlahan sosok namja itu. Kudekati ia, tapi ia belum banyak bereaksi pada gerak-gerikku. Ia masih dengan nyanyiannya, lagu yang mengungkapkan rasa cinta.

Angin laut semakin berhembus kencang dibalik kedamaianku atas suaranya. Menyebabkan muncul suara gesekan dari rambutku yang terurai bebas.

“Ada orang?” ucapnya datar, namun tetap terdengar sangat lembut.

Dia? Itu dia? Tak bisa kupercaya.

Ya Tuhan , lelaki itu. Lelaki yang menghentikan langkah kejiku 3 bulan lalu. Lelaki yang hampir membuatku terbunuh hanya dengan menatap matanya yang buta. Oh tuhan, jika dia bisa melihatku, ini sama saja dengan membunuh perlahan diriku dengan tatapan matanya.

Aku benar-benar dihipnotis olehnya. Bukan hanya oleh matanya, tapi suaranya mebuatku tak bergeming sedikitpun.

Goo Eunyoung, mungkin inilah sebabnya eomma menghawatirkanmu. Kau tak akan bisa mengendalikan dirimu dengan orang seperti dia. Sinting. Kau akan menjadi sinting sepulang dari sini.

“Permisi, ada orang disana?” ia mengulang ucapannya, wajar saja karena ia belum tahu pasti akan keberadaanku.

“Aaa.. ne~” aku sedikit terkejut , kurasa koneksi otakku melambat hingga terlamabt pula memberi respon padanya.

“aku… Ingat suaraku tuan…” lanjutkku , tapi terhenti karena aku tak mengenalinya

“Lee Donghae”

“aaaaa!! Itu dia!”

“eh?”

“maksudku, namamu tuan. Aku yakin kau lebih tua dariku. Iya kan?”

Beruntunglah aku karena aku tak seburuk waktu itu, hingga aku tak terlalu canggung berbicara dengannya.

“benarkah? Sok tau kau”

“aish… tapi kau terlihat lebih tua, dan cara bicaramu lebih dewasa donghae-sshi”

“begitukah? Apakah kau masih kuliah?“ ia mendengus dan tersenyum kecil. Dasar pembunuh.

“ne~ kemarin aku baru menyelesaikan D3 ku”

“baiklah, kau lebih muda”

“sok tahu kau”

“aku tahu” katanya sedikit nyolot

Goo Eunyoung, kau terperangkap sekarang . Posisimu yang berubah dari berdiri tak jauh darinya kemudian duduk bersebelahan dengannya menujukkan rasa ketertarikanmu dengan pembicaraan ini, juga dengannya.

——–

Donghae POV

“3 bulan lalu harusnya aku lulus S1 disini”

“Mwooooo?” bisa kubayangkan yeoja ini sedang membulatkan bibirnya. Ya, walaupun aku tak bisa melihat bagaimana wujud dari yeoja yang kini kurasakan sudah duduk disampingku.

“ sebenarnya kebutaanku ini belum lama terjadi . 3 bulan lalu dan seterusnya aku sama sepertimu nona manis” jelasku tersenyum “ 3 bulan lalu adalah masa-masa tersulitku dimana aku kembali menangis , selain karena kepergian appa, kebutaanku juga membuat duniaku seolah kabur, apalagi kelulusanku yang sudah di depan mata yang harus sirna. Aku harus mengulang lagi tahun depan, itupun kalau aku bisa kembali seperti semula” Lanjutku, tak ada tanggapan darinya. Hanya seuara hembusan nafas dan bibirnya yang gemetar yang mampu kudengar.

“Awalnya aku ragu kalau aku akan bisa menjalaninya,tapi ini adalah takdirku, nasibku. Aku tak bisa mengakhirinya semauku. Aku harus merasa senang terhadap hidupku, walaupun sebenarnya ini sangat sangat menyedihkan. Buta bagaikan kehilangan dunia, seperti selalu tertidur dalam mimpi dan tak terbangunkan”

“apa semua lukisan itu milikmu? Apa kau melukisnya 3 bulan yang lalu?”

“Apa harus ku jelaskan? Kurasa kau tak kan ..”

“Jelaskan! “ Ia memotong pembicaraanku, dan itu sedikit mengejutkanku karena aku tak bisa tahu reaksinya akan seperti itu.

Aku menghela nafas dalam-dalam dan mulai memaparkan ceritaku pada yeoja yang begitu ingin banyak tahu tentangku.

——-

 Eunyoung POV

Lee Donghae.

Ya, sosok itu.

Setelah mendengar semua ceritanya, ia buatku merasa kalau hidupku tak ada harganya sama sekali.

“ini semua berasal dari seorang yeoja. Yeoja yang bahkan aku tak tahu siapa namanya, ia tak ku kenal sama sekali, namun hatiku mampu mengenalinya. Seperti orang bodoh, aku selalu mengikutinya. Ia juga menjadi awal semangatku untuk melukis tanpa melihat yang awalnya tak bisa kulakukan sama sekali. Setelah itu kutahu, ini hanyalah masalah cinta”

Dapat kucerna semua detil perkataanya. Kalau bukan karena harga diri, aku ingin sekali berteriak kepadanya agar kau bisa melihat dan menatapku sekarang . Setidaknya kau harus tahu bagaimana ketertarikanku padamu saat ini.

Tapi itu bodoh Goo Eunyoung. Dia Buta.

Kalau saja aku tahu kalau orang ini telah buta, bahkan saat kejadian itu, kurasa aku takkan bisa melihatnya lagi.

“Oh Tuhaaan, bisakah aku dilahirkan kembali dan hidup sebagai wanita itu?” kataku tanpa sadar

“mwo?” dia tak sadar dengan ucapanku

“lupakan” jawabku singkat

“Oyah, sebelumnya siapa namamu nona? Kurasa akan lebih nyaman bila aku memanggilmu dengan namamu.”

“Goo Eunyoung, Eun untuk permata dan young untuk jiwa”

Ia tersenyum setelah mendengar penjelasanku. Aaaaaaa aku akan dikira mabuk oleh eomma sepulang darisini.

———-

Busan Sakshil University – 9 April 2012 04.17 P.M

Aigoo~ neomu yeppo. Jeongmal”

“Jinjja? Gomawo”

“Jungah-ssi, mengapa kau tak ikuti jejak kakakmu hah? Wae? “

“Aniyo~ aku dan unni itu berbeda Eunyoung-a”

“Wae? Kau sama cantiknya dengan unni-mu”

“Kau kira aku bisa lakukan apa yang ia lakukan? Aku tak berbakat sama sekali menjadi seorang model”

“Mwooyaaa? Tidak berbakat? Lalu ini apa?” kubuyarkan semua fotonya dari tanganku ke meja . “Semua foto curian orang disini, kau masih mau mengelaknya?”

“YAA! Memangnya kenapa dengan foto-foto itu?”

“Lihat disetiap foto, kau bahkan terlihat natural dengan posemu yang seperti model dalam segala hal yang kau lakukan. Entahlah apa karena para stalkermu itu terlalu hebat, ato kau memang berbakat.”

“Ahh… itu kebetulan, ssh cukup eun..”

“Aniii~ hahahahah” olokku

“YAA!! Hentikan !!! “

Aku hanya bisa terkekeh karena bisa mengolok-oloknya lagi hari ini.

“Eunyoung-a..” panggilnya pelan

“Nde?~” jawabku dengan masih sedikit tawa yang tersisa

“Apa keadaanmu membaik sekarang?”

“Ye?”

Baiklah, keadaan serius sekarang.

“Ne, kurasa .. Wae?”

Tiba-tiba Jungah memelukku erat sambil berjingkrak tak karuan.

“KYAAAAAAA!!!! AKU MENCINTAIMU GOO EUNYOUNG”

“YAAAAAA!!! JUNGAH-SSI, AKU EHHHH… AKU SEESAAAAAK” jeritku

Dia sedikit melepas pelukannya dan menatapku.

“Kau tau? Aku merindukanmu yang seperti ini. KYAAAAAAA”

Dan dia kembali melakukannya.

“YAAA! JUNGAH, AKU.. AAAAAH SSEE..SAAAK!! TOLOOOONG AKUUU SIAA PAAPUUN”

———-

 

Busan Tower Park – 9 April 2012 06.15 PM

 

 

Donghae POV

 

 

Kuraba seluruh permukaan tanah dengan tongkatku. Aku tak pernah menggunakan kacamata sama sekali, itu semakin menunjukan kelemahanku. Dengan membawa sebuah tas gendong berisi alat lukis dan bebrapa lukisannya yang ku gendong setengah tali.

Aku merasa mulai bosan sekarang. Tak ada teman yang bisa ku ajak bicara. Kim sonsaengnim, aku tak hafal jalan menuju ke kampus dengan keadaanku sekarang. Kalupun bisa, aku tak akan bisa pulang. Namdongsaengku, Kibum. Ia pergi 3 bulan lalu diamana itu adalah hari yang seharusnya adalah hari kelulusanku dan dia. Padahal seharusnya ia menyelesaikan studinya bulan itu. Dan yeoja yang bernama Goo Eunyoung? Sudah 2 hari kemarin ia tak menemuiku. Cukup asik berbicara dan bercerita dengan orang polos sepertinya. Ia begitu tertarik akan ceritaku. Aku kira ia akan menemuiku setiap hari setelah pertemuannya sehari denganku.

“ehem”

Seseorang berdehem dan memegang tanganku dari belakang. Menjadikan aku berhenti dengan langkahku.

“annyeong? “ tanyaku memastikan bahwa orang yang telah menyentuhku adalah orang yang kukenal

“Donghae-sshi?” Ku perhatikan setiap detik suaranya, ya aku kenal suara itu

“Eunyoung-a?” tanyaku sedikit heran

“Ku kira kau sudah lupa”

Aku tersenyum kecil. Kukira dia tak kan pernah lagi menemuiku.

“Ada waktu?” tanyanya seiring menuntunku berjalan kembali

“Ye~ ?”

“Ikut aku” ia menarikku dan mengajakku berlari kecil

Aku tak tahu kemana ia akan membawa langkah-langkah kecilku ini. Aku merasakan hawa sedikit dingin ketika aku tahu kalau yeoja ini sepertinya menuntunku ke sebuah ruangan. Bau ruangannya seperti..

Kopi?

 

“Kau membawaku ke Hartash Garden?” tanyaku setelah aku duduk di sebuah sofa empuk

“Ne~  Kau pernah kesini?”

“Ne~ terakhir kurang lebih sekitar 6 bulan lalu”

“Donghae-sshi..”

“Tunggu, bisakah kau panggil aku oppa saja? Tidakkah hubungan kita ini bisa dikatakan sedikit dekat?” Sela-ku memotong pembicaraanya

“Arayo~ hajimaaan… “

“wae?”

“Ani… lupakan”

Hartash Garden Coffee shop, Busan – 06.45               

Eunyoung POV

 

“Caffe Misto. Dong.. ahhh maksudku, oppa. Kau mau pesan apa?”kataku seraya membaca buku menu

Baiklah, memanggilnya oppa terasa canggung untukku. Dan ia tanpa berpikir panjang menyebut kalau hubunganku dengannya sedikit dekat. Ini baru kedua kalinya aku bertemu dengannya, bahkan kami tak banyak bicara. Seperti itukah ia menyebut kedekatan kami?

Kulihat ia sedikit cengengesan melihatku memanggilnya oppa, membuatku sedikit salah tingkah

“Ya! Kau pikir aku tak tahu kalau kau menertawakanku? Kaja! Katakan apa yang akan kau pesan”

“Geurae, bacakan apa saja menunya”

Paboya! Mengapa aku sama sekali tak ingat kalau ia buta? Aish~

Caffè Misto ,coffee traveler, espresso con panna, caramel machiato, cinamon dolce la..“

“Caffe Misto” sergahnya

“Mwo? Kau suka juga?”

“A- ani.. aku hanya menyamakan denganmu”

“Aigooo~ lalu mengapa kau menyruhku membacakan menunya? Aish~”

Ia terkekeh lagi , apa ia ingin main-main denganku saat ini?

Hening. Kini pemandangan itu lagi yang kulihat. Matanya.

“Eunyoung-a?” ucapnya sedikit berbisik dan sedikit mengagetkanku

“de?”

“Kenapa kau diam?”

“Ne? Aa.. ani..emm aku ..”

Ada apa dengan mulutmu Goo Eunyoung? Katakan sesuatu.

“Jujur padaku, apa kau sedang menatapku?”

YAAA!! Aku harus jawab apa???? Ini gila. Dia bertingkah seperti peramal. Bagaimana dia tahu? inikah yang dinamakan feeling seorang tuna netra?

“ye” jawabku dengan nada yang semakin surut

Ia mencoba meluruskan pandangannya denganku. Dan

DEG..

Tidak salah lagi. Ya, tidak salah lagi. Ia membalas tatapan ku,wajahnya kini sejajar denganku. Aku bisa-bisa meragukan kalau ia buta.

Sistem kerja otakku runtuh. Hanya dengan mata itu. Ya, matamu donghae-sshi.

“emm.. uuuhh” ucapku agar sedikit mengalihkan rasa perhatianku terhadapnya. Sejujurnya aku bingung topik apa yang akan kubahas dengannya

“ne?”

“Yaa! Maksudku , umm … oppa! Apa kau sudah belajar huruf braille?” Sejujurnya aku bingung topik apa yang akan kubahas dengannya

“Mwooo? Hahaha”

“Wae? Kenapa kau tertawa ? “ tanyaku heran

“Ani~ Maksudku, untuk apa aku mempelajarinya? Aku sudah cukup pintar, aku sudah menempuh hampir semua mata pendidikan. Hanya saja langkahku sedikit terhenti eunyoung-a, hahahaha”

“Yaaa! Kau pikir kau pintar? Hah.. jangan kira kau bisa mengalahkanku Donghae-ssi” ucapku lantang

“Aku?? Tentu saja, lihatlah nanti kalau akan datang sebuah berita di media ‘Si Buta dari Busan berhasil mengalahkan Nona Manis dalam kompetisi kepintaran’ hahahaha”

“Maka aku yakin kalau berita itu takkan pernah terbit . ahaha”

———

Pertemuanku hari ini dengannya cukup hingga jarum jam di tanganku tertuju pada setengah dari angka 8. Ya, hanya cukup 2 jam lebih 15 menit terlihat bodoh di depannya untuk hari ini. Apalagi setelah tatapannya tadi, aku lebih banyak diam.

“Youngie?”

Youngie? Apa itu sebuah panggilan baru untukku? Baiklah, kali ini aku berhutang padamu Donghae-ssi karena sudah membuat sebuah sunggingan di bibirku.

“Ne?”

“Gomawo untuk hari ini” ucapnya lembut

Dan tambah satu lagi sunggingan di bibirku. Tanpa bisa kau lihat oppa, hari ini aku telah banyak tersenyum didepanmu.

“Ne.. juga untuk waktumu untukku oppa” jawabku

“Mengapa kau jadi tak banyak bicara begini Youngie? Apa kau sakit?”

“Ani.. aku hanya bingung dengan apa yang harus aku katakan padamu oppa.. ini tak semudah yang dibanyangkan, tapi bisa berbicara dengan lancar di depanmu adalah sesuatu keajaiban”

“Haha.. kalau begitu , cukup diam pun aku senang “

Dan kami berpisah di jalan ini, di Busan Tower Park.

———-

Author POV

 

Lelaki setengah baya itu semakin dekat dengan kediamannya yang tak jauh dari tempat dimana bekerja sebagai pelukis.

Ia tak hentinya meyentuhkan sepatah demi sepatah tongkat yang tergenggam di tangan tegarnya ke tanah. Hingga akhirnya seorang memanggil namanya dari belakang.

“Donghae-ssi”

Suaranya semakin mendekati dirinya. Ia pun berbalik tak menentu arahnya. Dan orang yang memanggilnya tadi memeluknya erat tanpa terduga.

“Sung Jung?”

Gadis yang memeluknya itu melepaskan pelukannya dan menatap penuh arti kepada Donghae. Tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi pada pria tampan itu yang sama sekali tak membalas tatapannya.

“Kau? Ada apa denganmu? Kau tak bisa melihatku? Apa kau rabun oppa?”

“Kau tak bisa melihatku SungJung? Hentikanlah, dan lepaskan tanganmu dari bahuku”

Merasa risih, donghae pun melepaskan tangan Sungjung yang masih menempel pada bahunya.

“Jadi kau buta? Wae? Jangan pernah mempermainkan aku lagi oppa” ucapnya panik

“Ani.. aku tak pernah berbohong kepadamu Sungjung, bahkan atas perasaanku sendiri. Pergilah, ini sudah malam Sungjung. Tak penting bagimu menemuiku lagi , apalagi dalam keadaan seperti ini”

“Andwae!! Sampai kapan kau akan seperti ini oppa? Bisakah kau seperti dulu lagi? Tetap mencintaiku?”

“Lupakan hal itu .. aku lelah dan inin beristirahat. Jadi pergilah”

Donghae berbalik dan kembali berjalan meninggalkan perempuan di depannya tadi. Ia mengacuhkan yeoja itu tanpa kata pamit sedikitpun.

“ YAAA!! Donghae-ssi!!! Kau pikir aku masih akan diam saja? berhenti!!”

Lelaki itu tak menghiraukan panggilan SungJung. Ia terus berjalan. Sementara SungJung tak hentinya meneriaki nama namja ini.

Sampai akhirnya ia lelah da menghampiri sosok yang mengacuhnkannya itu.

“YAA!! Berhenti hah!! Berhenti mengacuhkanku !!” ucap sungjung sedikit berteriak di depan donghae. “YAA! Bagaimana kalau kebutaanmu adalah sebuah karma dariku atas keacuhanmu Donghae-ssi?”

“Karma? Tidak. Kebutaan ini bukanlah sebuah karma ataupun kutukan untukku Sungjung. Ini adalah takdirku” jawabnya santai “Lagipula kenapa tidak kau urusi saja cintamu pada adikku? Dia jauh lebih mencintaimu sekarang daripada aku”

“Maksudmu Kibum?” balasnya

Yeoja itu mematung atas perkataan yang baru saja ia dengar. Sesaat kemudian Donghae berjalan kembali , tanpa ada sedikitpun dorongan, yeoja itu tak mengikutinya lagi. Ia menatap setiap langkah namja itu. Ia tak pernah menduga bahwa sosok yang dulu sempat mencintainya itu menjadi rapuh dengan tongkatnya.

“Kau menyedihkan Lee Donghae” batinnya.

———-

Busan ,  08. 12 P.M

 

Eunyoung POV

Ini nyata? Oh Tuhaaan, kau pertemukan aku dengan sebuah penghangat hati. Tanpa apapun, tanpa daya, aku tak bisa mengendalikan hatiku sendiri bila di hadapnnya. Bahkan ketika pertemuan pertamaku dengannya.

Sepanjang jalan menuju rumah hanya dia dan dia yang terpikirkan. Aku menjadi banyak melamunkannya, tanpa memperhatikan kakiku yang berjalan. Beruntunglah aku karena Busan sepi di jam-jam ini. Karena kalau tidak, mungkin aku sudah tertabrak.

Ini sudah pukul 8 lewat 12 menit. Aish , langkahmu jauh lebih lambat Goo Eunyoung.

Kubuka gerbang rumahku, kurasa eomma belum tidur karena semua lampu masih menyala. Dan benar saja, saat pintu utama terbuka, eomma sedang terduduk menonton TV seorang diri di ruang keluarga.

“Aku pulaaaaang” seru ku

“Ye… kau sudah makan Eun?” ucap eomma tanpa melihat kearahku.

“Ye.. aku sudah”

Tak ada respon lagi. Maka aku membuka pintu kamar dan menguncinya. Kusandarkan tubuhku ke dinding pintu, memegang dadaku yang masih tak karuan berapa banyak getarnya. Dan kemudian mengambil Handphoneku.

“Yoboseyo..Jungah-ssi?”

“Ye? Mwoyeyo Eunyoung-a?” jawabnya dari sebrang

“Jungah-ssi, kau tau bagaimana rasanya jatuh cinta dipandangan pertama?” kataku bergetar. Aku menarik nafas panjang dan mencoba menruskan apa yang akan aku ucapkan padanya “Kau tau? Aku merasakannya sekarang”

———

-TBC-

Gomawo yah atas responnya kemaren readers .. *kiss hug buat readers* makin semangat nih buat nerusin Ffnya J . hehhehehe… masih butuh kritik ama sarannya nih, bantu yaa bantuu hehehe . komen dari readers dibutuhiin banget. Gomawoo~

Like An Idiot (Part 1)

Like an idiot (part 1)

Title: Like an idiot (part 1)

Author : a.k.a amengamhae

Cast : Lee donghae Super Junior.

Category  : Angst, Romance

 

Aku menatapnya tepat di bola matanya. Mata yang membuatku menjadi orang terbodoh karena mau menatapnya. Mata yang tak akan memberi balasan atas tatapanku. Mata yang bahkan tidak tahu kapan aku telah menatapnya. Ya, mata yang mebuatku melihat ada cinta didalamnya.

___

BUSAN IMPERIAL ART HALL – 8 Oktober 2011 14.46 PM

Aku berjalan menuju pagelaran seni disebuah gedung di daerah Busan , Korea Selatan.

Kukira takkan ada banyak orang yang hadir ke pagelaran seperti ini, banyak turis-turis dari dalam ataupun luar Korea yang ternyata tertarik. Banyak lukisan yang mendorong kakiku harus berjalan terus menerus berkeliling seluruh bagian gedung ini dan mengambil semua gambar dari kamera SLRku.  Sudah hampir tiga perempat bagian ruangan gedung ini ku tapaki, sampai aku menemui sebuah lukisan milik  Kim Hong Do yang telah meninggal beberapa ratus tahun lalu dipamerkan disini. Tak jauh dariku, berdiri seorang wanita yang juga melihat beberapa karya dari pelukisa terkenal yang karyanya dipamerkan digedung ini. Sebenarnya ia tak begitu special. Ah, ani… maksudku mungkin orang lain mungkin akan melihat dia seperti itu tapi tidak denganku. Entahlah,menurutku bahkan dia lebih bagus dari sebuah objek lukisan.

Yeoja itu , aaaahh…

Ia berjalan menjauh dariku. Kurasa ini saatnya kameraku beraksi. Aku mengambil beberapa foto darinya dan kemudian berlari kecil untuk mengikuti kemana yeoja yang memberiku setumpuk nikotin hingga akal sehatku teracuni ini. Ia berjalan tak henti-hentinya, sampai ia berhenti disebuah butik pakaian wanita. Banyak pula para wanita yang berkumpul disana. Sepertinya sedang ada perkumpulan khusus. Aku baik-baik saja sampai ada seseorang yang membuatku menggertak dan membuat yeoja itu begerdik menyadari keberadaanku.

“ YAA!! Donghae-ssi? “ seseorang menepak bahuku dari belekang , sontak membuatku kaget dan meliriknya

“ aish.. Kibum-a!!!”

“ sedang apa kau dis..”

“ssshh..” ku acungkan jari telunjukku di bibir, memotong apa yang akan ia katakan.

Kurasa Kibum mengerti akan isyaratku, ia diam dan melihat tajam kearahku. Kurasa begitu.

Sepintas kulihat yeoja itu sedikit menoleh kearahku dan kembali lagi dengan perhatiannya terhadap perkumpulan yang sedang ia gandrungi bersama banyak temannya. Sekitar 7 menit bola mataku hanya fokus pada yeoja yang berada tak jauh didepanku dan tak menimbulkan reaksi apapun terhadapnya.

“Kibum-a?” kataku berbisik sambil mengayuhkan tangan kiriku kebelakang

Tak ada jawaban

“kibum-a?” kataku lagi

Masih tak ada jawaban

Akhirnya kuputuskan melirik kebelakang untuk memastikan dimana namja yang lebih tua dariku itu berada. Nihil, sepertinya dia sudah pergi beberapa menit yang lalu tanpa aku tahu. Kurasa ia bosan atas diam yang kulakukan tadi. Menatap yeoja itu membuatku bahkan tak tahu apa yang ada di dekatku. Termasuk Kibum, namdongsaeng yang sudah sekitar 5 tahun berada denganku, dimulai saat kami sama-sama akan menempuh pendidikan di Busan. Sebenarnya aku tak mengerti mengapa dia ingin meneruskan kuliahnya di Busan, dia bahkan lebih pintar dan keluarganyapun lebih berkecukupan dariku. Apalagi dia berasal dari Seoul yang notabenenya lebih lengkap dari apa yang ada di Busan. Aku tak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya sehingga dia lebih memilih busan sebagai tempat dimana dia bertahun-tahun akan menjalani hidupnya disini.

***

“Ya! Kau sedang apa?”

“Aku? Hanya mencari pemandangan”

“ Pemandangan? Bagaimana kau bisa melihat sebuah pemandangan hanya dengan memegang kameramu itu hyung?”

“Pemandangannya ada disini Kibum-a”

“Menurutmu kau akan puas hanya dengan memandanginya dari situ?”

“Tentu, ini akan sangat baik bagi pengelihatanku” jawabku dengan penuh percaya diri.

Kibum diam. Kami sama-sama terdiam. Aku dengan keasikanku memandangi foto-foto hasil jepretanku tentang yeoja itu. Dan kibum, entahlah..

“Kibum-a..?” aku memulai mengusik diam kami.

“Ne?”

“Bagaimana hubunganmu dengan…”

Baik, aku lupa namanya.

“Siapa?” tanyanya heran

“Tunanganmu itu. Kapan kalian akan menikah?”

“Hahaha.. aku saja belum bekerja hyung. Kau semakin gila”

Ia terkekeh mendengar pertanyaan yang spontan keluar dari mulutku. Kurasa ini pengaruh yeoja itu yang telah berhasil menguras semua kenormalanku.

“Kenapa kau tak pernah memperlihatkannya padaku Kibum-a? Jangan pelit terhadap hyungmu ini. Apa dia cantik?”

“ANDWEE! Kalau aku menunjukkannya padamu, kau akan jatuh cinta padanya!”

“Kalau dia cantik mengapa tidak? Hahaha” jawabku terkekeh

“ANDWEE!! Tidak untuk saat ini. Kenapa kau tak fikirkan saja Sungjung?”

“YAA! Hentiksn mengungkapnya. Dia terlalu bodoh karena menolakku 2 tahun lalu. Aku yakin dia menyesal sekarang”

“Lalu kau dengan mudah menolaknya saat dia bisa menerimamu hyung?”

“Salahnya sendiri menolakku duluan, aku lelah mengejarnya selama 2 tahun. Rasakan saja sekarang akibatnya” ucapku jujur.

“Kalau begitu berikan saja ia untukku”

“YAAA!!!”

Aku menaruh kameraku dan sesegera mungkin menjitak kepala dongsaengku.

***

Semakin hari aku semakin tertarik pada yeoja itu. Waktu setelah kuliah hanya kuhabiskan dengan mencari sosok yeoja yang belum aku tahu namanya sama sekali.

Pekerjaanku kini adalah, seorang ‘Stalker’ dari seorang UnNamed yeoja. Walau ketertarikanku terhadapnya semakin besar, tapi entahlah, aku masih belum tertarik untuk mencari info tentangnya. Kali ini, ia hanya sebagai penyadaran bagiku agar aku bisa lebih bersyukur atas diciptakannya mata ini.

Kali ini aku akan mencoba mencuci fotonya di ruangan cuci fotoku di dalam kosan.

“Aisshhh~ lama sekali “ desisku

Tok..tok..tok..

“Masuklah Kim Kibum. Aku tahu kau yang ada disana” Kataku sedikit berteriak karena jarak ruang ini dengan pintu masuk yang cukup jauh.

“Hyung? Kau dimana?” tanyanya yang juga sedikit berteriak

“Tunggu sebentar”

Aku meninggalkan pekerjaanku dan beralih menghampiri kibum yang bersabar menungguku.

“Ada apa Kibum-a?”

“Ani~ aku hanya ingin memberikan buku ini hyung” jawabnya sambil memberikanku sebuah buku

Babo cheoreom wae mulranneunji
Babo
cheoreom wae geu daereul bonaen geonji

 

Sebuah telepon masuk lewat ponselku.

“Yoboseyo?”

“Lee?” tanya si penelpon

Aku terdiam sejenak, seperti mengenal orang yang meneleponku. Ya, suara dan gaya memanggilku yang khas.

“Kim sonsaengnim?”

Aku pamit keluar kepada Kibum yang baru saja terduduk untuk melanjutkan pembicaraanku dengan Kim Sonsaengnim. Dia, bukan hanya dosen bagiku. Dia adalah alasan mengapa aku bisa tetap bertahan hidup perih dikota Busan sebagai seorang potografer media cetak kota yang bahkan gajinya tak mencapai 100 ribu won, disamping menjadi mahasiswa yang hidup dengan beasiswa.

Ya, di Busan. Yang kupnya hanya Kibum, kameraku, dan Kim sonsaengnim. Mungkin akan bertambah dengan yeoja itu..

***

Studi akademis dan seniku berakhir bulan depan. Ini sudah sekian kalinya aku merasakan kelulusan di Busan. 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menempuh pendidikan yang jauh dari kota asal. Namun 5 tahun tak akan terasa jika ada seseorang yang membuat hidupmu merasa bisa lebih menikmatinya.

Kim sonsaengnim telah lama mengajar di Universitas ini, banyak pelajaran hidup yang bisa kupelajari darinya. Ia bahkan mengajariku bagaimana cara melukis tanpa melihat.

“dengar, jika kau benar-benar mencintai sesuatu, pandanglah dia dengan hatimu. Maka kau akan benar-benar merasakan apa yang dinamakan sebuah cinta”

Itulah yang dia katakan ketika akan mengajariku melukis tanpa melihat. Tapi saat itu membuat garis dengan benarpun sama sekali tak bisa kulakukan. Padahal isntingku sudah benar-benar memastikan kalau garis itu akan bagus. Yang ku tahu adalah, aku masih belum bisa merasakannya dengan hati.

Semenjak itu, aku tak pernah mencobnya lagi. Setidaknya sampai aku menemukan yeoja itu.  Dan Kibum, menyebutku gila karena aku mencoba melukisnya tanpa melihat.

“Hyung? Kau sudah gila… apa kuliah selama 5 tahun ini membuatmu semakin tidak waras?” uacpnya dingin

“ssshhh… berhentilah mengoceh , tidakkah kau lihat aku sedang melakukan apa kibum-a?” jawabku dengan mata yang tertutup kain .

“Sedari tadi aku telah melihat kegilaanmu hyung, kau yang selalu menutup matamu dariku dengan menggunakan penutup itu”

“Baiklah, aku menyerah. Kibum, kurasa kalau 1 atau 2 tahun lagi aku masih tetap bersamamu, maka aku akan terbunuh dengan omongan dinginmu itu .” kali ini aku membuka penutup kepalaku .

“Hyung~”

“ne?”

“sebenarnya siapa yeoja yang ada di lukisanmu itu?” tanyanya datar

“mwo? Aaaa… dia ? entahlah, akupun tak tahu. dia cantik kan? ”

“pembohong” pekik Kibum

“mwoya?? Maksudmu apa Kim Kibum?” Jawabku sedikit menyentak, namun ini tetaplah sebuah canda antara hyung dan dongsaengnya.

“Sudahlah hyung, hentikan kegilaanmu” suaranya menciut setelah sedikit sentakan dariku tadi

“Kibum-a? Kau sedikit berbeda akhir-akhir ini. Selama 5 tahun kebelakang kau tampak baik baik saja. Gwaenchanayo?”

“Ani, aku masih tetap dingin seperti ini. Waeyo?”

“aaaa… bukan begitu, tapi…mmmmmhhh” aku sedikit bergumam dan menutup mulutku dengan 5 jari yang tak merapat.

“begini,  ku akui kau memang dingin, tapi … ini beda . kau sedikit lebih kasar padaku. Waeyo?” lanjutku

“Jinjja? Hyung, sudah selama ini kita saling mengenal apa kau..”

“cukup, katakan itu nanti. Aku akan menyegarkan mataku. Mianhae. Hahahahah “

Aku mengambil kamera SLR dan lukisan yeoja tadi yang belum selesai , kemudian memasukannya kedalam tas dan pergi meninggalkan Kibum yang menatapku benci karena perlakuan biadabku tadi.

Busan Tower Park , 15 Oktober 2011 04.22 PM

Aku berjalan di sepanjang jalan Busan Tower Park , mencoba mencari objek yang pas untuk kufoto.  Banyak orang yang berlalu lalang disini. Tetapi keindahan dari tampat ini masih tetap menakjubkan. Ini adalah sebuah nikmat yang selalu aku rasakan setiap hari.

Kurasa kini saatnya aku bergerak . Aku keluar dari Busan Tower dan masuk ke jalan.

Dan yeoja itu datang di depanku.

Kuarahkan lensa kameraku kearahnya, kutekan tombol kamera beberapa kali. Saat itu , kuarasakan sebuah mobil seperti akan mendekatiku dengan kecepatan yang tak bisa ku ukur. Sangat cepat.

Kakiku seolah mematung dan membuat aku tak bisa menghindari kecepatan mobil itu. Mataku membulat. Dan tiba saat ketika aku harus menghadapi keadaan dimana mobil itu mengenaiku dengan keras. Kamera yang ku genggam lepas dari tanganku. Tubuhku ambruk , melewati atap mobil itu dan jatuh kembali ke jalan. Kepalaku terbentur bahu jalan, dan beberapa kerikil jalan mengenai mataku. Seketika tubuhku kaku dan pandanganku menjadi kabur..

Semua menjadi gelap.

***

Author POV

Kecelakaan pada jam 4 itu hampir saja menewaskan dirinya. Hampir saja ia menjadi mayat tabrak lari. Keadaannya kritis saat ini. Ia yang malang, masih terbaring koma di kamar pasien rumah sakit.

1 bulan kemudian..

Jari-jari tangan pria itu bergerak perlahan seperti menandakan kalau ia akan terbangun dari tidurnya selama ini. Ya, 1 bulan ia menikmati tidurnya tanpa terganggu sedikitpun. Malaikat telah mengembalikan nyawa ke tubuhnya.

Dokter yang menangani namja itu keluar  dan mencari seseorang yang ada kaitan dengannya.

“Donghae-sshi.. “  dengusnya. Ia menghampiri Kibum yang tengah duduk di bangku.

“Ne? Apa dia sudah sadar?” tanya Kibum cemas.

“Ne~ hajiman.. “

“Mwoya? Katakan padaku? Apa ada sesuatu yang salah padanya?” Kibum semakin menjadi, ia panik tak karuan.

“Ia mengalami kerusakan pada jaringan otak..dan haaah” dokter itu menarik nafas sejenak “Kornea matanya rusak. Ia mengalami kebutaan Kibum-sshi”

“Apa?” …

-TBC-

***

SELESAAAI … part 1nya . Dimohon komennya yah J

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.